Ditulis oleh: Muliadi Abd, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan - Ushuluddin Tafsir dan Hadits (HMJ-UTH), Fakultas Ushuluddin, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Email: Muliadiabd254@yahoo.com
Aceh
merupakan salah satu provinsi di bagian pulau Sumatera. Aceh terkenal dengan
adat dan budaya Islamnya yang kental. Budaya Islam yang sangat mengajurkan
persatuan dan persaudaraan antar sesama menjadi faktor pendukung dalam interaksi
sosial di provinsi ujung pulau Sumatera ini, sehingga Aceh terasa aman dan
damai. Namun seiring berjalannya waktu, persaudaraan itu mulai terkikis dengan
adanya pemilihan jabatan di antara sesama. Hal inilah yang menyebabkan
kedamaian yang telah terbentuk menjadi hancur.
Beberapa
waktu yang lalu dikabarkan melalui media eloktronik maupun media cetak tentang
adanya konflik politik antar sesama, padahal tidak dapat dipungkiri bahwa
siapapun bakal calon legislatif (caleg) yang berada di Aceh adalah saudara
kita. Sangat disayangkan hal ini bisa terjadi di sekeliling kita, sehingga
banyak pertanyaan yang muncul; Apakah jabatan itu lebih berharga dari pada
persaudaraan?. Apakah jabatan itu lebih menciptakan permusuhan dari pada
persaudaraan?. Apakah jabatan itu sanggup membawa kita ke dalam kebaikan atau
malah sebaliknya?. Beberapa pertanyaan tersebut pasti muncul di alur pemikiran
kita.
Berkaca
pada al-Qur’an, Allah swt berfirman: “sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian,
dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan
rahmat”. (QS: Al-Hujurat: 10).
Ayat di atas
menjelaskan bahwa Allah menghendaki
persaudaraan kaum mukmin harus benar-benar kuat. Maksudnya ialah persaudaraan
sesama mukmin itu harus lebih kuat daripada persaudaraan dengan nasabnya. Hal
ini disebabkan secara keturunan belum menjamin kekuatan persaudaraan yang ada
pada diri seorang mukmin itu kuat, karena bisa saja orang tua atau keturunannya
tersebut berbeda agama dengan dirinya. Oleh karena itu persaudaraan kita
sebagai sesama mukmin sangatlah wajib untuk diutamakan bahkan urusan jabatan
harus sangat dikesampingkan demi terciptanya persaudaraan yang sebenarnya.
Ahli
tafsir yaitu Wahbah az-Zuhayli dalam karyanya Tafsîr al-Munîr jilid 25
halaman 239 menyatakan bahwa: “Kaum Mukmin harus
terikat dengan kebenaran dan keadilan, tidak berbuat zalim, dan tidak condong
pada salah satu pihak. Sebab, mereka semua adalah saudara yang disejajarkan
oleh Islam”.
Jika ada sengketa atau permasalahan kita harus menyelesaikannya sesuai dengan
ketentuan hukum-hukum Allah, yakni berujuk pada syariat. Maka dengan begitu, kita
akan mendapat rahmat Allah swt berupa kedamaian dan juga kekokohan dalam
persaudaraan sehingga terjauh dari permusuhan.
Kita Semua Bersaudara
Aceh
terdiri dari beragam suku, namun Islam menjadi penyatu semuanya dalam lingkaran
ukhwah atau persaudaraan. Banyak hal positif yang akan kita dapatkan bersama
jika para calon pemimpin kita saling mendukung satu sama lain. Meski berbeda
partai namun kita sejatinya harus lebih mengutamakan keyakinan sebagai mukmin
dari pada lainnya.
Berbeda partai janganlah sampai membuat
perpecahan apalagi hingga terjadinya permusuhan dan penindasan, akan tetapi
sebenarnya kita harus lebih memperhatikan status kita sebagai mukmin yang
menerangkan bahwa kita semua bersaudara. Jika persaudaraan masih utuh, secara
tidak langsung kedamaian itu akan terciptakan. Namun jika sudah tidak ada, apa
lah arti dari sebuah jabatan?. Tentu jabatan itu hanya akan membuat kita lalai
dengan perhiasan dunia yang tidak akan pernah dibawa ketika ajal menjemput
kita. Bahkan kita tidak akan membawa jabatan, pangkat, harta dan
sebagainya ketika berhadapan dengan Yang Maha Kuasa, melainkan hanyalah kain
kafan dan ketakwaan yang terbentuk dari hubungan kita dengan Allah serta hubungan
antar sesama manusia atau disebut dengan persaudaraan.
Jabatan
Itu Amanah Yang Berat
Seorang mukmin tentu mengimani bahwa dunia ini
hanyalah tempat singgahan sementara menuju akhirat. Lagi pula jabatan itu
adalah sebuah amanah yang sangat berat. Pada suatu hari dalam beberapa kisah
para ulama menyatakan bahwa Imam al-Ghazali yang merupakan seorang ulama
tasawuf pernah menanyakan kepada muridnya: “Apa yang paling berat di
dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab: “besi, gajah, dan sebagainya”. Namun kata
Imam al-Ghazali yang paling berat adalah memegang amanah. Pernyataan
Imam al-Ghazali tersebut didukung oleh al-Qur’an yang menjelaskan bahwa:
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan
gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS: Al-Ahzab: 72).
Ayat di atas seharusnya menjadi pembelajaran kepada kita
sebagai seorang pemimpin. Kita wajib mengetahui bahwa jabatan yang diamanahkan
bukan untuk tujuan karir dan sebagainya, akan tetapi hal itu adalah sebagai
beban berat yang diberikan oleh orang kepada kita. Allah swt dalam ayat
tersebut jelas menerangkan bahwa langit, bumi, dan gunung-gunung pernah
ditawarkan oleh-Nya untuk memikul amanah. Namun ketiga ciptaan Allah tersebut menolak
untuk memikul amanat tersebut karena dikhawatirkan mereka akan mengkhianatinya
atau lupa pada amanah yang diberikan oleh Sang Pencipa.
Oleh karena itu sebagai bahan renungan bagi kita semua, mari
sama-sama menghentikan permusuhan dan pertindasan yang telah terjadi. Saatnya
kita berbenah untuk menciptakan pesta demokrasi yang damai, aman, dan tenteram.
Serta mari jadikan ini semua sebagai pengingat bahwa jabatan itu ialah amanah
yang berat. Apabila kita tidak mampu menjalankannya dengan baik maka sungguh
pertanggunganjawaban di akhirat kelak akan sangat berat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar