Sabtu, 01 Maret 2014

(OPINI) Jabatan VS Persaudaraan




Ditulis oleh: Muliadi Abd, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan - Ushuluddin Tafsir dan Hadits (HMJ-UTH), Fakultas Ushuluddin, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Email: Muliadiabd254@yahoo.com


Aceh merupakan salah satu provinsi di bagian pulau Sumatera. Aceh terkenal dengan adat dan budaya Islamnya yang kental. Budaya Islam yang sangat mengajurkan persatuan dan persaudaraan antar sesama menjadi faktor pendukung dalam interaksi sosial di provinsi ujung pulau Sumatera ini, sehingga Aceh terasa aman dan damai. Namun seiring berjalannya waktu, persaudaraan itu mulai terkikis dengan adanya pemilihan jabatan di antara sesama. Hal inilah yang menyebabkan kedamaian yang telah terbentuk menjadi hancur.
Beberapa waktu yang lalu dikabarkan melalui media eloktronik maupun media cetak tentang adanya konflik politik antar sesama, padahal tidak dapat dipungkiri bahwa siapapun bakal calon legislatif (caleg) yang berada di Aceh adalah saudara kita. Sangat disayangkan hal ini bisa terjadi di sekeliling kita, sehingga banyak pertanyaan yang muncul; Apakah jabatan itu lebih berharga dari pada persaudaraan?. Apakah jabatan itu lebih menciptakan permusuhan dari pada persaudaraan?. Apakah jabatan itu sanggup membawa kita ke dalam kebaikan atau malah sebaliknya?. Beberapa pertanyaan tersebut pasti muncul di alur pemikiran kita.
Berkaca pada al-Qur’an, Allah swt berfirman: “sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian,  dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian  mendapatkan rahmat”. (QS: Al-Hujurat: 10).
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menghendaki persaudaraan kaum mukmin harus benar-benar kuat. Maksudnya ialah persaudaraan sesama mukmin itu harus lebih kuat daripada persaudaraan dengan nasabnya. Hal ini disebabkan secara keturunan belum menjamin kekuatan persaudaraan yang ada pada diri seorang mukmin itu kuat, karena bisa saja orang tua atau keturunannya tersebut berbeda agama dengan dirinya. Oleh karena itu persaudaraan kita sebagai sesama mukmin sangatlah wajib untuk diutamakan bahkan urusan jabatan harus sangat dikesampingkan demi terciptanya persaudaraan yang sebenarnya. 
Ahli tafsir yaitu Wahbah az-Zuhayli dalam karyanya Tafsîr al-Munîr jilid 25 halaman 239 menyatakan bahwa: “Kaum Mukmin harus terikat dengan kebenaran dan keadilan, tidak berbuat zalim, dan tidak condong pada salah satu pihak. Sebab, mereka semua adalah saudara yang disejajarkan oleh Islam”. Jika ada sengketa atau permasalahan kita harus menyelesaikannya sesuai dengan ketentuan hukum-hukum Allah, yakni berujuk pada syariat. Maka dengan begitu, kita akan mendapat rahmat Allah swt berupa kedamaian dan juga kekokohan dalam persaudaraan sehingga terjauh dari permusuhan.


Kita Semua Bersaudara
Aceh terdiri dari beragam suku, namun Islam menjadi penyatu semuanya dalam lingkaran ukhwah atau persaudaraan. Banyak hal positif yang akan kita dapatkan bersama jika para calon pemimpin kita saling mendukung satu sama lain. Meski berbeda partai namun kita sejatinya harus lebih mengutamakan keyakinan sebagai mukmin dari pada lainnya.
Berbeda partai janganlah sampai membuat perpecahan apalagi hingga terjadinya permusuhan dan penindasan, akan tetapi sebenarnya kita harus lebih memperhatikan status kita sebagai mukmin yang menerangkan bahwa kita semua bersaudara. Jika persaudaraan masih utuh, secara tidak langsung kedamaian itu akan terciptakan. Namun jika sudah tidak ada, apa lah arti dari sebuah jabatan?. Tentu jabatan itu hanya akan membuat kita lalai dengan perhiasan dunia yang tidak akan pernah dibawa ketika ajal menjemput kita. Bahkan kita tidak akan membawa jabatan, pangkat, harta dan sebagainya ketika berhadapan dengan Yang Maha Kuasa, melainkan hanyalah kain kafan dan ketakwaan yang terbentuk dari hubungan kita dengan Allah serta hubungan antar sesama manusia atau disebut dengan persaudaraan.

Jabatan Itu Amanah Yang Berat
Seorang mukmin tentu mengimani bahwa dunia ini hanyalah tempat singgahan sementara menuju akhirat. Lagi pula jabatan itu adalah sebuah amanah yang sangat berat. Pada suatu hari dalam beberapa kisah para ulama menyatakan bahwa Imam al-Ghazali yang merupakan seorang ulama tasawuf pernah menanyakan kepada muridnya: “Apa yang paling berat di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab: “besi, gajah, dan sebagainya”. Namun kata Imam al-Ghazali yang paling berat adalah memegang amanah. Pernyataan Imam al-Ghazali tersebut didukung oleh al-Qur’an yang menjelaskan bahwa: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS: Al-Ahzab: 72).
Ayat di atas seharusnya menjadi pembelajaran kepada kita sebagai seorang pemimpin. Kita wajib mengetahui bahwa jabatan yang diamanahkan bukan untuk tujuan karir dan sebagainya, akan tetapi hal itu adalah sebagai beban berat yang diberikan oleh orang kepada kita. Allah swt dalam ayat tersebut jelas menerangkan bahwa langit, bumi, dan gunung-gunung pernah ditawarkan oleh-Nya untuk memikul amanah. Namun ketiga ciptaan Allah tersebut menolak untuk memikul amanat tersebut karena dikhawatirkan mereka akan mengkhianatinya atau lupa pada amanah yang diberikan oleh Sang Pencipa.
Oleh karena itu sebagai bahan renungan bagi kita semua, mari sama-sama menghentikan permusuhan dan pertindasan yang telah terjadi. Saatnya kita berbenah untuk menciptakan pesta demokrasi yang damai, aman, dan tenteram. Serta mari jadikan ini semua sebagai pengingat bahwa jabatan itu ialah amanah yang berat. Apabila kita tidak mampu menjalankannya dengan baik maka sungguh pertanggunganjawaban di akhirat kelak akan sangat berat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar