Minggu, 02 Maret 2014

(CERPEN) Tulisanku, Untuk Tanah Kelahiranku




Ditulis oleh: Muliadi Abd, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan-Ushuluddin Tafsir dan Hadits (HMJ-UTH), Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.
Email: Muliadiabd254@yahoo.com

Tulislah apa yang kamu pikirkan, jangan pikirkan apa yang kamu tulis. Itulah kata semangat yang selalu menginspirasiku dalam dunia tulis-menulis. Aku seorang mahasiswa yang memiliki hobbi menulis sejak berseragam putih abu-abu, bercita-cita atau punya impian tinggi untuk melahirkan banyak tulisan yang bisa mendukung pembangunan tanah kelahiranku yaitu Aceh. Meski tulisanku masih banyak kesalahan dan jauh dari apa yang diharapkan, itu tidak membuatku lemah dan pasrah. Namun menurutku inilah awal dari perjalanan hidupku di bidang ini.
Tulisanku adalah isi pemikiranku yang kucoba untuk salurkan dalam sebuah bentuk bacaan, baik itu opini, cerpen, kata-kata mutiara, pantun dan sebagainya. Bagiku menulis itu bukanlah persoalan mudah, akan tetapi jika yakin dengan kemauan yang besar akan memudahkan jalan bagiku untuk manggapai impianku. Oleh karena itu hingga sekarang aku terus menulis di mana pun aku bisa dan kapan pun aku punya kesempatan.
Aku mengenal koran Serambi sejak di bangku Sekolah Dasar (SD) untuk melihat info pertandingan bola, namun tidak terbesit olehku untuk membaca opini, cerpen maupun lainnya yang terdapat di dalamnya. Ketika aku memasuki bangku perkuliahan, saat itu lah awal aku mengenal dan suka untuk membaca beberapa opini maupun cerpen yang dikirimkan oleh banyak orang dari beragam latar belakang berbeda. Aku terus mengikutinya hingga terbesit dipikiranku: “Mengapa aku tidak ikut menulis?” setelah itu aku pun mulai tertarik untuk mengirimkan tulisanku ke Serambi melalui email yang aku dapatkan dari beberapa seniorku di kampus. Aku sering mengirimkan tulisanku berupa opini dan cerpen.

Pengalaman Pertama
Pada waktu pertama kali aku mengirimkan naskahku dalam bentuk opini ke email: redaksi@serambinews.com  dengan judul “Inginkan Maju, Gali Sejarah Aceh”, saat itu aku berharap bahwa tulisanku esok harinya terpampang di bagian opini Serambi. Namun yang aku dapatkan tulisanku hanya menembus email redaksi Serambi saja. Saat itu aku tidak putus asa melainkan semakin memperbaiki kesalahan pada tulisanku sehingga melahirkan karya baru. Saat itu pula aku kirimkan tulisanku kembali hingga beberapa kiriman, namun hasilnya tidak berubah seperti hasil pertamaku. Saat itu aku mulai sedikit putus asa mengingat tulisanku sangat ingin dibaca oleh banyak orang untuk menjadi bahan renungan untuk Negeri Seribu Pulau ini, khususnya Aceh tanah kelahiranku. “Betapa sulitnya memberikan ide untuk membangun negeri ini” hatiku mulai kesal dan pikiranku bercampur kecewa, sehingga aku memutuskan saat itu untuk berhenti mengirimkan tulisanku ke sana.
Hari-hari pun berlalu, tidak disengaja menghadiri suatu acara syukuran kewisudaan salah seorang seniorku, aku bertemu dengan seorang seniorku yang sering mengirimkan tulisannya ke Serambi. Tulisannya sering dimuat sehingga aku bertanya padanya: “Bang, aku sering baca tulisan abang di Serambi, kok bisa ya tulisan abang dimuat sedangkan tulisan aku selalu ditolak. Gimana caranya?”. “Mungkin jumlah katanya belum mencukupi, memangnya berapa jumlah kata pada tulisanmu yang sering dikirim ke sana” tanyanya padaku. “500-600 kata bang”. “Nah, pantaslah tidak dimuat, jumlahnya masih sangat sedikit. Jika kamu mau nulis dan kirim ke Serambi, buat hingga 700-1000 kata. Terus saja kirim dan jangan pernah putus asa, pasti ada saatnya tulisanmu dimuat” begitu balasnya. Saat itu hati aku tersentak kaget karena kesalahanku ialah tidak memperhatikan jumlah kata yang wajib aku penuhi sebagai syarat penulisan pada koran Serambi tersebut.

Terhenti Sejenak Namun Kembali
Setelah berhenti sekitar beberapa bulan untuk mengirimkan naskah, maka saat itu pula aku kembali aktif mengirimkan tulisanku ke sana. Kini targetku bukanlah hanya sebatas ingin dimuat melainkan memperbanyak tulisan-tulisan yang dapat aku jadikan sebuah buku pribadi maupun lain sebagainya. Ketika tulisanku tidak dimuat, maka tulisan itu dapat aku posting pada sebuah blog jurusanku di kampus yang aku buat. Sehingga dengan demikian tulisanku tidak mubazir sedikitpun atau tidak dibuang secara pecuma.
Kini aku sadar bahwa beberapa sikap yang harus dimiliki oleh seorang penulis ialah: Tidak putus asa, terus berusaha, memiliki tujuan lain jika target pertama tidak terpenuhi, dan paling penting berdoa siang dan malam agar tulisan yang dilahirkan tidak hanya sebatas tulisan melainkan dapat benar-benar bermanfaat untuk banyak orang di tanah kelahiran khususnya dan negeri pada umumnya. Sehingga sampai dengan sekarang jika ada waktu luang atau kesempatan di sela perkuliahan dan aktivitas lainnya, aku terus menulis untuk menciptakan banyak tulisan yang kiranya perlu dan penting bagi kemajuan tempat kelahiranku.
Oleh karena itu, sekarang aku selalu menjunjung tinggi nilai usaha meski hanya sedikit. Sehingga dari beberapa pengalamanku di atas, Alhamdulillah kini aku memiliki sebuah buku berbagi ilmu sambil bercerita yang diterbitkan oleh kampusku dengan judul Istana 2 Cinta. Buku tersebut adalah karyaku sendiri yang tujuannya tidak terlepas dari impian awalku. Buku itu aku buat untuk menumbuhkan rasa cinta siswa atau mahasiswa terhadap tempat pendidikannya sebagai rumah kedua setelah rumahnya sendiri. Maka dengan demikian, akan banyak lahir pakar-pakar ilmuan yang sejatinya mampu meningkatkan mutu pembangunan daerah ketimbang hanya menjadikan kampus sebagai pelabuhan sementara guna mencari pekerjaan tetap. Inilah arti dan maksud dari “Tulisanku, Untuk Tanah Kelahiranku”. Jika bukan bertujuan untuk ikut membangun daerah tercinta, rasanya tidak akan pernah aku mau untuk menulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar