Ditulis oleh: Muliadi Abd, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan-Ushuluddin Tafsir dan Hadits (HMJ-UTH), Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.
Email: Muliadiabd254@yahoo.com
Tulislah apa
yang kamu pikirkan, jangan pikirkan apa yang kamu tulis. Itulah kata semangat
yang selalu menginspirasiku dalam dunia tulis-menulis. Aku seorang mahasiswa
yang memiliki hobbi menulis sejak berseragam putih abu-abu, bercita-cita atau punya
impian tinggi untuk melahirkan banyak tulisan yang bisa mendukung pembangunan tanah
kelahiranku yaitu Aceh. Meski tulisanku masih banyak kesalahan dan jauh dari
apa yang diharapkan, itu tidak membuatku lemah dan pasrah. Namun menurutku inilah
awal dari perjalanan hidupku di bidang ini.
Tulisanku
adalah isi pemikiranku yang kucoba untuk salurkan dalam sebuah bentuk bacaan,
baik itu opini, cerpen, kata-kata mutiara, pantun dan sebagainya. Bagiku
menulis itu bukanlah persoalan mudah, akan tetapi jika yakin dengan kemauan
yang besar akan memudahkan jalan bagiku untuk manggapai impianku. Oleh karena
itu hingga sekarang aku terus menulis di mana pun aku bisa dan kapan pun aku
punya kesempatan.
Aku mengenal koran
Serambi sejak di bangku Sekolah Dasar (SD) untuk melihat info pertandingan
bola, namun tidak terbesit olehku untuk membaca opini, cerpen maupun lainnya
yang terdapat di dalamnya. Ketika aku memasuki bangku perkuliahan, saat itu lah
awal aku mengenal dan suka untuk membaca beberapa opini maupun cerpen yang
dikirimkan oleh banyak orang dari beragam latar belakang berbeda. Aku terus
mengikutinya hingga terbesit dipikiranku: “Mengapa aku tidak ikut menulis?”
setelah itu aku pun mulai tertarik untuk mengirimkan tulisanku ke Serambi
melalui email yang aku dapatkan dari beberapa seniorku di kampus. Aku sering
mengirimkan tulisanku berupa opini dan cerpen.
Pengalaman Pertama
Pada waktu
pertama kali aku mengirimkan naskahku dalam bentuk opini ke email: redaksi@serambinews.com dengan judul “Inginkan Maju, Gali Sejarah Aceh”, saat itu aku
berharap bahwa tulisanku esok harinya terpampang di bagian opini Serambi. Namun
yang aku dapatkan tulisanku hanya menembus email redaksi Serambi saja. Saat itu
aku tidak putus asa melainkan semakin memperbaiki kesalahan pada tulisanku
sehingga melahirkan karya baru. Saat itu pula aku kirimkan tulisanku kembali
hingga beberapa kiriman, namun hasilnya tidak berubah seperti hasil pertamaku.
Saat itu aku mulai sedikit putus asa mengingat tulisanku sangat ingin dibaca
oleh banyak orang untuk menjadi bahan renungan untuk Negeri Seribu Pulau ini,
khususnya Aceh tanah kelahiranku. “Betapa sulitnya memberikan ide untuk membangun
negeri ini” hatiku mulai kesal dan pikiranku bercampur kecewa, sehingga aku
memutuskan saat itu untuk berhenti mengirimkan tulisanku ke sana.
Hari-hari pun
berlalu, tidak disengaja menghadiri suatu acara syukuran kewisudaan salah
seorang seniorku, aku bertemu dengan seorang seniorku yang sering mengirimkan
tulisannya ke Serambi. Tulisannya sering dimuat sehingga aku bertanya padanya:
“Bang, aku sering baca tulisan abang di Serambi, kok bisa ya tulisan abang
dimuat sedangkan tulisan aku selalu ditolak. Gimana caranya?”. “Mungkin jumlah
katanya belum mencukupi, memangnya berapa jumlah kata pada tulisanmu yang
sering dikirim ke sana” tanyanya padaku. “500-600 kata bang”. “Nah, pantaslah
tidak dimuat, jumlahnya masih sangat sedikit. Jika kamu mau nulis dan kirim ke
Serambi, buat hingga 700-1000 kata. Terus saja kirim dan jangan pernah putus
asa, pasti ada saatnya tulisanmu dimuat” begitu balasnya. Saat itu hati aku
tersentak kaget karena kesalahanku ialah tidak memperhatikan jumlah kata yang
wajib aku penuhi sebagai syarat penulisan pada koran Serambi tersebut.
Terhenti Sejenak Namun Kembali
Setelah
berhenti sekitar beberapa bulan untuk mengirimkan naskah, maka saat itu pula
aku kembali aktif mengirimkan tulisanku ke sana. Kini targetku bukanlah hanya
sebatas ingin dimuat melainkan memperbanyak tulisan-tulisan yang dapat aku
jadikan sebuah buku pribadi maupun lain sebagainya. Ketika tulisanku tidak
dimuat, maka tulisan itu dapat aku posting pada sebuah blog jurusanku di kampus
yang aku buat. Sehingga dengan demikian tulisanku tidak mubazir sedikitpun atau
tidak dibuang secara pecuma.
Kini aku sadar
bahwa beberapa sikap yang harus dimiliki oleh seorang penulis ialah: Tidak
putus asa, terus berusaha, memiliki tujuan lain jika target pertama tidak
terpenuhi, dan paling penting berdoa siang dan malam agar tulisan yang
dilahirkan tidak hanya sebatas tulisan melainkan dapat benar-benar bermanfaat
untuk banyak orang di tanah kelahiran khususnya dan negeri pada umumnya.
Sehingga sampai dengan sekarang jika ada waktu luang atau kesempatan di sela
perkuliahan dan aktivitas lainnya, aku terus menulis untuk menciptakan banyak
tulisan yang kiranya perlu dan penting bagi kemajuan tempat kelahiranku.
Oleh karena
itu, sekarang aku selalu menjunjung tinggi nilai usaha meski hanya sedikit. Sehingga
dari beberapa pengalamanku di atas, Alhamdulillah kini aku memiliki sebuah buku
berbagi ilmu sambil bercerita yang diterbitkan oleh kampusku dengan judul
Istana 2 Cinta. Buku tersebut adalah karyaku sendiri yang tujuannya tidak
terlepas dari impian awalku. Buku itu aku buat untuk menumbuhkan rasa cinta
siswa atau mahasiswa terhadap tempat pendidikannya sebagai rumah kedua setelah
rumahnya sendiri. Maka dengan demikian, akan banyak lahir pakar-pakar ilmuan
yang sejatinya mampu meningkatkan mutu pembangunan daerah ketimbang hanya
menjadikan kampus sebagai pelabuhan sementara guna mencari pekerjaan tetap.
Inilah arti dan maksud dari “Tulisanku, Untuk Tanah Kelahiranku”. Jika bukan
bertujuan untuk ikut membangun daerah tercinta, rasanya tidak akan pernah aku
mau untuk menulis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar