Sabtu, 01 Maret 2014

(CERPEN) Mengertilah Aku, Ummi



Ditulis oleh: Syarifah Huswatun, Mahasiswa semester 1, Jurusan Tafsir dan Hadits, Fakultas Ushuluddin, UIN Ar-Raniry.
Editor: Muliadi Abd.


“Selama engkau berada didunia ini janganlah terkejut dengan adanya penderitaan. Sesungguhnya penderitaan muncul hanyalah karena memang menjadi sifat pantasnya atau karakter aslinya”
Rampai Hikmah, Al Hikam Ibn ‘Atha’illah.

Hari mulai memakai gaun malamnya, berhiaskan permata bintang-bintang yang indah, berdan-danan elok purnama, bermandikan cahaya rem-bulan, dengan anggunnya ia menghiasi kelam dalam pesta detik.
Angin berbisik di-antara rerumputan yang mulai basah di hamparan bumi, perlahan dingin meng-hampiri remang yang menjelma merasuki rasa, dan menenggelamkan jiwa dalam relung asa.

Aku kuncup mawar yang kemarin
masih berlindung dalam kelopak
menghitung waktu ber-sama embun
menanti mekar.

tapi ternyata dunia tak seindah yang kuduga
terjangan badai dari arah barat mematahkan daunku
teriknya langit menggugur kan daun hijau ku
belum lagi ancaman banjir dari hulu
dan kumbang jalang yang siap merayu.


oh, pencipta langit,
ini kah takdir ku
batang ku masih lema,h
dan aku tumbuh di musim angin
tolong lah aku ,jangan biarkan aku patah.
        
Final semester awal ku sudah tiba di Fakultas Ushuluddin, aku menyudahi puisi ku di laptop dan beralih mengulang  bahan-bahan final kuliahku yang telahku persiapkan di depan meja sambil menemani kakak berjualan di simpang mesra. Rasanya baru saja kemarin aku bergalau-galau dalam perjuangan ke Banda Aceh. Aku hanyut dalam ingatan ku melawati masa-masa itu.    
       Tak terasa aku telah menyelesaikan membaca bahan finalku. waktu telah menunjukkan pukul 21:00 wib. Tiba-tiba saja pikiranku melayang pada peristiwa beberapa bulan yang lalu. Kira-kira se-minggu sebelum kelulusan diumumkan, seorang ibu dari kampung sebelah da-tang pada Ummi, dan mengatakan ia menyukaiku, aku hanya berkata “itu terserah dia, itu bukan hati Uswah Ummi”. Ternyata perkara itu membuat semakin meresahkan, katanya ia akan menungguku hingga tamat kuliah nanti, aku pun hanya menjawab “terserah, jodoh bukan di tangan ku, kita lihat saja”.
Aku mengenalinya, baru beberapa waktu lalu dia menyatakan cinta pada sa-habatku dari kecil, dan pernikahan mantannya pun aku yang membuat pelaminan bersama Ummi. Ternyata Ummi  diiming-imingi dengan pekerjaannya yang PNS, dan dia dikenal sebagai anak yang baik se kampung. Setiap pulang dari pasar jika Ummi bertemu dengan Ibu ter-sebut aku harus mendengar laporan tentang si India itu, sangat tidak nyaman. Ternyata dugaanku benar, ada ujungnya, tak sempat berjalan beberapa hari waktu berselang, Ummi sudah berencana akan menunangankanku dengan pria berwajah India itu sehabis lebaran tahun itu juga, dengan spontan aku menjawab tidak, alasanku  pertama aku memang tidak suka, kedua aku masih bersiap-siap untuk PKA, dan yang ketiga aku sudah menjalani masa-masa sulit sejak dari dulu, ku rasa aku akan baik-baik saja tanpa harus tunangan sekarang, toh dari dulu aku memang sendiri, tanpa pacar, tapi alhamdulillah SMA sudah ku tamatkan dengan izin-Nya.
 Kufikir Ummi akan mengerti perasaanku, maksud dan kamauanku, ter-nyata tidak, ia terus memaksa ku untuk menerima anak itu. Pembicaraan besarpun mulai terjadi antara aku dan Ummi. Ummi berkata pada ku
“Nak, kakak mu belum selesai kuliah, kita masih dalam lautan besar, bagaimana kau akan kuliah jika tidak ada yang membantu Ummi, uang belanja mu nanti,spp dan lain-lain”. Aku menjawab
Memangnya jika Ummi menunangankan ku apakah aku akan punya banyak uang, apakah dia akan menguliahkanku tanpa harus biaya dari Ummi, apakah aku akan bahagia?, lagian uang spp nya kan tidak banyak, setengah dari spp kakak, sudahlah Ummi, kita memang seperti ini dari dulu” jawabku.
Ummi hanya terdiam sejenak. Aku mengerti di-mana posisi Ummi sekarang, ku lanjutkan menyulam kasab ku. Ummi pun bertanya lagi
Jadi, sekarang apa yang kau inginkan, Nak?, mengapa Uswah tidak mau, dia anak yang baik, alim, tampan, punya pekerjaan tetap, kurang apa lagi?” tanya Ummi. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menjawab.
“Ummi, aku ingin kuliah!, dan aku tak menyu-kainya, coba fikirkan Ummi, kalau dia meng-inginkan ku, kenapa harus sekarang, dari dulu pun aku lalu lalang didepannya,apa beda cantik ku sebelum tamat SMA dan setelahnya, kenapa tidak menyatakan cinta padaku dan membantu sekolahku, membelikan buku-buku untuk ku, me-ngajarkanku, aku tidak mau”  ucap ku mengakhiri sulaman dan bangun dari dudukku. Ummi memegang pergelangan tangan ku dan menyuruhku duduk kembali. Ia mengiyaskan kakak yang belum selesai kuliah dan belum punya suami, padahal kakak pun baru memasuki dua puluh tahun usianya, ini itu dikatakannya padaku, ditakut-takutinya aku akan tidak mendapati suami, aku bosan mendengarnya  karena sudah setiap hari pemba-hasannya suami. Aku pun mulai naik pitam dengan perkataan Ummi, kali ini aku benar-benar marah.
“Sudahlah Ummi, jangan terus merayu dan memaksaku, aku tidak tertarik itu, kalau Ummi menginginkannya, mengapa bukan Ummi saja yang menikahinya?, aku tidak mau” kataku dengan nada tinggi. Ummi semakin marah padaku.
“Begitu rupanya kau sekarang Nak, sudah berani membangkang, kukira kubesarkan kau bisa jadi penawar racun dalam hidup ku, ternyata kau lebih ini pembalasanmu, baik lah kalau begitu kau tidak ku urus” kata Ummi sambil menangis. Aku hanya menahan air mata ku yang tak bisa ku bendung dan memasuki kamar.
Lama sekali aku  me-renung disudut kamar, menanyakan kenapa ini terjadi, mengapa Ummi ku yang paling ku sayang berubah, apakah aku nakal?, apakah aku bodoh?, perasaan aku tak pernah melepaskan peringkat kelas ku sejak dari kecil, kecuali sekali,  ya walau pun SMA ku bukan SMA unggul seperti dek Habib.Apakah aku malas membantu pekerjaan Ummi?, tidak. Tak ku temukan alasan dalam benakku yang logis mengapa ia bersikap seperti itu.Tak pernah ku sangka, Ibu yang telah memper-lihatkan langit padaku, yang telah berjuang mati-matian membesarkan ku, yang mengenalkan Tuhan pada-ku, yang menyuruhku untuk tetap bertahan, seka-rang berbalik arah, ingin mengakiri pengorbanan ku ditengah jalan.
Lama sekali aku terdiam di kamar. Tiba-tiba Ummi membuka pintu dan menghampiri ku, disuruh-nya aku untuk makan siang, tapi aku tidak mau, dipaksa-nya aku untuk makan, ku tepis tangannya. Ummi pun marah padaku dan memu-kuliku. Dalam tangis bercampur marah aku meng-hindari pukulan Ummi, ku pegang pergelangan tangannya dan bertanya.
 “mengapa Ummi begitu memaksa aku untuk me-nerimanya, mengapa?” tanya ku, dalam tangisan ku.
“Aku Ibumu sudah tak sanggup lagi, adik mu dibawah banyak, kakak mu belum selesai, Waled mu akan pensiun, dan aku lelah sejak dari kecilku”.
 Rupanya Ummi mengeluh seperti alasan Ibu kawan-kawanku yang lain.
“Oh, begitu rupanya. Ummi, aku tidak mau lagi diganggu orang seperti aku kecil karena orang tua ku miskin, aku tak ingin hidup sepertimu, dari kecil lelah hingga tua, aku tak ingin suami seperti Waled yang masih membuat mu lelah, aku tak ingin anakku bodoh seperti aku nantinya, aku tidak ingin hidup di kan-dang harimau ini seperti mu”  kata ku.
Ummi menampar ku, aku terdiam. Hilanglah kelembutan dan kepatuhan ku selama ini dimata Ummi waktu itu.
Kutinggalkan Ummi yang  ada didalam kamar, ku pakai bajuku dan pergi keluar dari rumah dengan mata ku yang sembab. Ku hubungi kakak  yang berada di Banda Aceh dan kuceritakan semua masalah yang ku alami kepada nya. Kakak menyuruhku untuk pulang lagi dan bersikap baik pada Ummi untuk beberapa jam terakhir ini, ia menyuruhku agar aku minta waktu untuk berfikir pada Ummi, dengan pergi ke Banda Aceh. Kuturuti an-juran kakak, aku yang berada di jalan berbelok pulang.
Aku tiba dirumah, ku lihat waled sudah pulang dari kantor dan Ummi terdiam bersandar di din-ding, sedang menyusui dek Fatih kecil ku, ku hampiri dia dan meminta maaf padanya
“Ummi, maafkan Unen, tidak bermaksud untuk menyakiti Ummi, tapi Unen benar-benar terkejut Mi, Unen tahu keadaan kita sekarang, tapi bukankah selama bertahun-tahun kita bisa melewatinya.” Ujar ku dengan nada yang lembut. Kulihat Ummi yang mulai luluh hatinya
“ itulah Nak, kau tak kau fikirkan bagaimana menjadi aku, tidakkah kau kasihan melihat Ummi dan Waled mu yang semakin tua?”. Katanya merayu ku dengan rayuan ampuh ibu-ibu kampung untuk anak perempuan yang tidak mau menurut. Aku menunduki pandangan ku dan meminta izin untuk berangkat ke Banda Aceh malam ini, dengan alasan yang ku buat-buat.
“Ummi, aku harus berangkat ke Banda Aceh segera, untuk mengembalikan formulir undangan dan mengikuti babak penyisihan lagi di IAIN” ucap ku.
“Pergilah, pakai uang mu dulu untuk berangkat, sekarang Ummi tak punya uang, minta pamit pada nya” Kata Ummi, mendengar ada kata-kata “nya”, aku naik pitam lagi,  ku bertengkar lagi dengan Ummi ku. Tapi kali ini ada Waled yang membelaku. Aku masuk kamar lagi dan menghubungi kakak  lagi. Kakak menyuruhku untuk tenang dan memikirkan rencana selanjutnya, aku menurutinya saja, katanya begini
“Biarlah kakak yang menghubungi anak itu, nanti setelah itu pasti dia akan menghubungi Adek, katakan saja kau ingin berangkat, jangan yang lain, setelah kau sampai disini, baru kau katakan sebenarnya isi hati mu” . Kakak mendikte ku. Pernah di anjurkan oleh kakak untuk menuruti arah air yang mengalir untuk beberapa waktu yang akan datang, menuruti apa yang disuruh Ummi, menerima lama-rannya, dan nanti jika aku punya seseorang yang lain ku putuskan dia, tapi aku sudah terlalu lama mengikuti aliran air, dan sekarang aku sadar jikalau ikan harus berenang melawan arus agar tidak hanyut menuju laut dan mati.
Aku melakukannya dengan benar walaupun aku sakit, ku pesan kursi untuk berangkat malam ini. Ingin aku berpamitan pada Abua yang ada di Pesantren,  dan ikut terlibat dalam  Isra’  seperti waktu Maulid yang lalu, tapi ku yakin ini pasti akan lebih sulit jika Abua tahu. Kak Juli yang  men-jadi harapan Abua dulu tak bisa dipertahankan untuk menjadi guru di pesantren, apalagi Abua melarang ku untuk kuliah, aku takut dan ku putuskan untuk diam saja kali ini. Perkara PKA ku tinggalkan untuk sementara waktu, masih banyak lagi waktu kami untuk latihan, selanjutnya kuse-rahkan  saja pada Rabb ku yang memiliki takdir ku, tak ku fikirkan lagi perasaan, hukum melawan orang tua, hak orang tua untuk memaksa anaknya untuk menikah, yang ku tahu hanyalah aku ingin pergi belajar dan sukses.
       Tak kusangka waktu berlalu begitu cepat, aku telah melewati ma-ghrib. Aku menunggu jem-putan di ruang keluarga, Ummi mengusik ku lagi dengan pertanyaan-pertanyaannya
“Nak, apa kau benar-benar tidak menyukainya?”tanya Ummi
“Tidak Ummi, walau pun ia mendadak kaya, dan jadi professor” jawabku pula. Ummi marah pada ku dan mengambil handphone yang kugenggam. “Ya sudah, ambil saja,biar ku isi pulsa di hp tittut yang lain” kataku  sambil bangun dan keluar dari rumah. Ku lihat pria India itu datang, ber-gegas ku lari jauh dan jauh menuju dermaga yang berada jauh dari rumah, sendirian, jalan kaki, malam, kelam.
Aku duduk di dermaga sendirian, rasanya ingin terjun saja aku ke laut, tapi kufikir-fikir sejuta kali fikir rasanya aku rugi jika mati sekarang, hampir tujuh be-las tahun telah ku lalui. Aku hanya menikmati belaian dingin angin malam sambil merenungi nasib ku.
Lama sekali aku duduk, akhirnya aku sadar akan keberangkatanku dengan deringan hp di saku celana ku, ku bergegas lari untuk pulang. Ternyata adikku Habib sudah berputar-putar pelabuhan mencari ku. Aku pulang dengan dek Habib.
Setibanya dirumah, ku lihat mobil jemputan parkir di halaman, ku ambil tas ku  dan kunaiki mobil di depan, air mata ku terus mengalir bak anak sungai, ku tepis tangan Ummi yang memberikan hp ku kembali, aku hanya bertanya “berapa uang yang kau dapat?”  tanya ku sambil menutup jendela. Tak ku hiraukan apapun, kecuali ku lihat Ummi menitipkan hp ku pada abang supir, tak ingin kuberfikir panjang lagi, yang penting aku tiba di Banda Aceh secepatnya dan terbebas dari peluang me-ngatakan “ya” untuk mene-rima lamaran. Aku pun berangkat dan selamat tiba di Banda Aceh waktu itu.
Tak peduli apa yang terjadi besok, seberapa berat jalan yang ku hadapi nantinya, yang penting biaya pengembalian for-mulir dan tempat tinggal ku ada. Walau pun berat dan sakit yang ku hadapi, aku tak ingin memberatkan hati ku untuk membenci dan menyesali apa yang telah terjadi, ku yakin ada hikmah yang besar dibalik semua ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar