Ditulis oleh: Syarifah Huswatun, Mahasiswa semester 1, Jurusan Tafsir dan Hadits, Fakultas Ushuluddin, UIN Ar-Raniry.
Editor: Muliadi Abd.
“Selama
engkau berada didunia ini janganlah terkejut dengan adanya penderitaan.
Sesungguhnya penderitaan muncul hanyalah karena memang menjadi sifat pantasnya
atau karakter aslinya”
Rampai
Hikmah, Al Hikam Ibn ‘Atha’illah.
Hari
mulai memakai gaun malamnya, berhiaskan permata bintang-bintang yang indah, berdan-danan elok purnama, bermandikan
cahaya rem-bulan, dengan anggunnya ia menghiasi kelam dalam pesta detik.
Angin
berbisik di-antara rerumputan yang mulai basah di hamparan bumi, perlahan dingin meng-hampiri remang yang menjelma merasuki rasa,
dan menenggelamkan jiwa dalam relung asa.
Aku
kuncup mawar yang kemarin
masih
berlindung dalam kelopak
menghitung
waktu ber-sama embun
menanti mekar.
tapi ternyata
dunia tak seindah yang kuduga
terjangan
badai dari arah barat mematahkan daunku
teriknya langit
menggugur kan daun hijau ku
belum
lagi ancaman banjir dari hulu
dan
kumbang jalang yang siap merayu.
oh,
pencipta langit,
ini kah takdir ku
batang
ku masih lema,h
dan aku tumbuh di musim angin
tolong
lah aku ,jangan biarkan aku patah.
Final
semester awal ku sudah tiba di Fakultas
Ushuluddin, aku menyudahi puisi ku di laptop dan beralih mengulang bahan-bahan final kuliahku yang telahku
persiapkan di depan meja sambil menemani
kakak berjualan di simpang mesra. Rasanya baru saja kemarin aku bergalau-galau
dalam perjuangan ke Banda Aceh. Aku hanyut dalam ingatan ku melawati masa-masa
itu.
Tak terasa aku telah menyelesaikan membaca
bahan finalku. waktu telah menunjukkan pukul 21:00 wib. Tiba-tiba saja pikiranku
melayang pada peristiwa beberapa bulan yang
lalu. Kira-kira se-minggu sebelum kelulusan diumumkan, seorang ibu dari
kampung sebelah da-tang pada Ummi, dan mengatakan ia menyukaiku, aku hanya
berkata “itu terserah dia, itu bukan hati Uswah Ummi”. Ternyata perkara itu
membuat semakin meresahkan, katanya ia akan menungguku hingga tamat kuliah
nanti, aku pun hanya menjawab “terserah, jodoh bukan di tangan ku, kita lihat
saja”.
Aku
mengenalinya, baru beberapa waktu lalu dia menyatakan cinta pada sa-habatku
dari kecil, dan pernikahan mantannya pun aku yang membuat pelaminan bersama
Ummi. Ternyata Ummi diiming-imingi dengan
pekerjaannya yang PNS, dan dia dikenal sebagai anak yang baik se kampung.
Setiap pulang dari pasar jika Ummi bertemu dengan Ibu ter-sebut aku harus
mendengar laporan tentang si India itu, sangat tidak nyaman. Ternyata dugaanku
benar, ada ujungnya, tak sempat berjalan beberapa hari waktu berselang, Ummi sudah
berencana akan menunangankanku dengan pria berwajah India itu sehabis lebaran
tahun itu juga, dengan spontan aku menjawab tidak, alasanku pertama aku memang tidak suka, kedua aku
masih bersiap-siap untuk PKA, dan yang ketiga aku sudah menjalani masa-masa
sulit sejak dari dulu, ku rasa aku akan baik-baik saja tanpa harus tunangan
sekarang, toh dari dulu aku memang sendiri, tanpa pacar, tapi alhamdulillah SMA
sudah ku tamatkan dengan izin-Nya.
Kufikir Ummi akan mengerti perasaanku, maksud
dan kamauanku, ter-nyata tidak, ia terus memaksa ku untuk menerima anak itu.
Pembicaraan besarpun mulai terjadi antara aku dan Ummi. Ummi berkata pada ku
“Nak,
kakak mu belum selesai kuliah, kita masih dalam lautan besar, bagaimana kau
akan kuliah jika tidak ada yang membantu Ummi, uang belanja mu nanti,spp dan
lain-lain”. Aku menjawab
“Memangnya jika Ummi menunangankan ku apakah
aku akan punya banyak uang, apakah dia akan menguliahkanku tanpa harus biaya
dari Ummi, apakah aku akan bahagia?, lagian uang spp nya kan tidak banyak,
setengah dari spp kakak, sudahlah Ummi, kita memang seperti ini dari dulu”
jawabku.
Ummi
hanya terdiam sejenak. Aku mengerti di-mana posisi Ummi sekarang, ku lanjutkan
menyulam kasab ku. Ummi pun bertanya lagi
“Jadi, sekarang apa yang kau inginkan, Nak?,
mengapa Uswah tidak mau, dia anak yang baik, alim, tampan, punya pekerjaan
tetap, kurang apa lagi?” tanya Ummi. Aku menarik nafas dalam-dalam dan
menjawab.
“Ummi,
aku ingin kuliah!, dan aku tak menyu-kainya,
coba fikirkan Ummi, kalau dia meng-inginkan ku, kenapa harus sekarang,
dari dulu pun aku lalu lalang didepannya,apa beda cantik ku sebelum tamat SMA
dan setelahnya, kenapa tidak menyatakan cinta padaku dan membantu sekolahku, membelikan buku-buku untuk ku, me-ngajarkanku,
aku tidak mau” ucap ku mengakhiri
sulaman dan bangun dari dudukku. Ummi memegang pergelangan tangan ku dan
menyuruhku duduk kembali. Ia mengiyaskan kakak yang belum selesai kuliah dan
belum punya suami, padahal kakak pun baru memasuki dua puluh tahun usianya, ini
itu dikatakannya padaku, ditakut-takutinya aku akan tidak mendapati suami, aku
bosan mendengarnya karena sudah setiap
hari pemba-hasannya suami. Aku pun mulai naik pitam dengan perkataan Ummi, kali
ini aku benar-benar marah.
“Sudahlah Ummi,
jangan terus merayu dan memaksaku, aku tidak tertarik itu, kalau Ummi
menginginkannya, mengapa bukan Ummi saja yang menikahinya?, aku tidak mau”
kataku dengan nada tinggi. Ummi semakin marah padaku.
“Begitu
rupanya kau sekarang Nak, sudah berani membangkang, kukira kubesarkan kau bisa
jadi penawar racun dalam hidup ku, ternyata kau lebih ini pembalasanmu, baik
lah kalau begitu kau tidak ku urus” kata Ummi sambil menangis. Aku hanya
menahan air mata ku yang tak bisa ku bendung dan memasuki kamar.
Lama
sekali aku me-renung disudut kamar,
menanyakan kenapa ini terjadi, mengapa Ummi ku yang paling ku sayang berubah, apakah aku nakal?, apakah aku
bodoh?, perasaan aku tak pernah melepaskan peringkat kelas ku sejak dari kecil,
kecuali sekali, ya walau pun SMA ku
bukan SMA unggul seperti dek Habib.Apakah aku malas membantu pekerjaan Ummi?,
tidak. Tak ku temukan alasan dalam benakku yang logis mengapa ia bersikap
seperti itu.Tak pernah ku sangka, Ibu yang telah memper-lihatkan langit padaku,
yang telah berjuang mati-matian membesarkan ku, yang mengenalkan Tuhan pada-ku,
yang menyuruhku untuk tetap bertahan,
seka-rang berbalik arah, ingin mengakiri pengorbanan ku ditengah jalan.
Lama
sekali aku terdiam di kamar. Tiba-tiba Ummi membuka
pintu dan menghampiri ku, disuruh-nya aku untuk makan siang, tapi aku
tidak mau, dipaksa-nya aku untuk makan, ku tepis tangannya. Ummi pun marah
padaku dan memu-kuliku. Dalam tangis bercampur marah aku meng-hindari pukulan Ummi, ku pegang
pergelangan tangannya dan bertanya.
“mengapa Ummi begitu memaksa aku untuk me-nerimanya, mengapa?” tanya ku, dalam
tangisan ku.
“Aku
Ibumu sudah tak sanggup lagi, adik mu dibawah banyak, kakak mu belum selesai,
Waled mu akan pensiun, dan aku lelah sejak dari kecilku”.
Rupanya
Ummi mengeluh seperti alasan Ibu kawan-kawanku yang lain.
“Oh,
begitu rupanya. Ummi, aku tidak mau lagi diganggu orang seperti aku kecil
karena orang tua ku miskin, aku tak ingin hidup sepertimu, dari kecil lelah
hingga tua, aku tak ingin suami seperti Waled yang masih membuat mu lelah, aku
tak ingin anakku bodoh seperti aku nantinya, aku tidak ingin hidup di kan-dang
harimau ini seperti mu” kata ku.
Ummi
menampar ku, aku terdiam. Hilanglah kelembutan dan kepatuhan ku selama ini
dimata Ummi waktu itu.
Kutinggalkan Ummi
yang ada didalam kamar, ku pakai bajuku
dan pergi keluar dari rumah dengan mata ku yang sembab. Ku hubungi kakak yang berada di Banda Aceh dan kuceritakan
semua masalah yang ku alami kepada nya. Kakak menyuruhku untuk pulang lagi dan
bersikap baik pada Ummi untuk beberapa jam terakhir ini, ia menyuruhku agar aku
minta waktu untuk berfikir pada Ummi, dengan pergi ke Banda Aceh. Kuturuti an-juran
kakak, aku yang berada di jalan berbelok pulang.
Aku
tiba dirumah, ku lihat waled sudah pulang dari kantor dan Ummi terdiam
bersandar di din-ding, sedang menyusui dek Fatih kecil ku, ku hampiri dia dan
meminta maaf padanya
“Ummi,
maafkan Unen, tidak bermaksud untuk menyakiti Ummi, tapi Unen benar-benar
terkejut Mi, Unen tahu keadaan kita sekarang, tapi bukankah selama
bertahun-tahun kita bisa melewatinya.” Ujar ku dengan nada yang lembut. Kulihat
Ummi yang mulai luluh hatinya
“
itulah Nak, kau tak kau fikirkan bagaimana menjadi aku, tidakkah kau kasihan
melihat Ummi dan Waled mu yang semakin tua?”. Katanya merayu ku dengan rayuan
ampuh ibu-ibu kampung untuk anak perempuan yang tidak mau menurut. Aku
menunduki pandangan ku dan meminta izin untuk berangkat ke Banda Aceh malam
ini, dengan alasan yang ku buat-buat.
“Ummi,
aku harus berangkat ke Banda Aceh segera, untuk mengembalikan formulir
undangan dan mengikuti babak penyisihan lagi di IAIN” ucap ku.
“Pergilah,
pakai uang mu dulu untuk berangkat, sekarang Ummi tak punya uang, minta pamit
pada nya” Kata Ummi, mendengar ada kata-kata “nya”, aku naik pitam lagi, ku bertengkar lagi dengan Ummi ku. Tapi kali
ini ada Waled yang membelaku. Aku masuk kamar lagi dan menghubungi kakak lagi. Kakak menyuruhku untuk tenang dan
memikirkan rencana selanjutnya, aku menurutinya saja, katanya begini
“Biarlah
kakak yang menghubungi anak itu, nanti setelah itu pasti dia akan menghubungi
Adek, katakan saja kau ingin berangkat, jangan yang lain, setelah kau sampai
disini, baru kau katakan sebenarnya isi hati mu” . Kakak mendikte ku. Pernah
di anjurkan oleh kakak untuk menuruti arah air yang mengalir untuk beberapa
waktu yang akan datang, menuruti apa yang disuruh Ummi, menerima lama-rannya,
dan nanti jika aku punya seseorang yang lain ku putuskan dia, tapi aku sudah
terlalu lama mengikuti aliran air, dan sekarang aku sadar jikalau ikan harus
berenang melawan arus agar tidak hanyut menuju laut dan mati.
Aku melakukannya
dengan benar walaupun aku sakit, ku pesan kursi untuk berangkat malam ini.
Ingin aku berpamitan pada Abua yang ada di Pesantren, dan ikut terlibat dalam Isra’
seperti waktu Maulid yang lalu, tapi ku yakin ini pasti akan lebih sulit
jika Abua tahu. Kak Juli yang men-jadi
harapan Abua dulu tak bisa dipertahankan untuk menjadi guru di pesantren,
apalagi Abua melarang ku untuk kuliah, aku takut dan ku putuskan untuk diam
saja kali ini. Perkara PKA ku tinggalkan untuk sementara waktu, masih banyak
lagi waktu kami untuk latihan, selanjutnya kuse-rahkan saja pada Rabb ku yang memiliki takdir ku, tak
ku fikirkan lagi perasaan, hukum melawan orang tua, hak orang tua untuk memaksa
anaknya untuk menikah, yang ku tahu hanyalah aku ingin pergi belajar dan
sukses.
Tak kusangka
waktu berlalu begitu cepat, aku telah melewati ma-ghrib. Aku menunggu jem-putan
di ruang keluarga, Ummi mengusik ku lagi dengan
pertanyaan-pertanyaannya
“Nak,
apa kau benar-benar tidak menyukainya?”tanya Ummi
“Tidak
Ummi, walau pun ia mendadak kaya, dan jadi professor” jawabku pula. Ummi marah
pada ku dan mengambil handphone yang kugenggam. “Ya sudah, ambil saja,biar ku isi pulsa di hp tittut yang lain” kataku
sambil bangun dan keluar dari rumah. Ku lihat pria India itu
datang, ber-gegas ku lari jauh dan jauh menuju dermaga yang berada jauh dari
rumah, sendirian, jalan kaki, malam, kelam.
Aku
duduk di dermaga sendirian, rasanya ingin terjun saja aku ke laut, tapi
kufikir-fikir sejuta kali fikir rasanya aku rugi jika mati sekarang, hampir
tujuh be-las tahun telah ku lalui. Aku hanya menikmati belaian dingin angin
malam sambil merenungi nasib ku.
Lama
sekali aku duduk, akhirnya aku sadar akan keberangkatanku dengan deringan hp di
saku celana ku, ku bergegas lari untuk pulang. Ternyata adikku Habib sudah
berputar-putar pelabuhan mencari ku. Aku pulang dengan dek Habib.
Setibanya
dirumah, ku lihat mobil jemputan parkir di halaman, ku ambil tas ku dan kunaiki mobil di depan, air mata ku terus
mengalir bak anak sungai, ku tepis tangan Ummi yang memberikan hp ku kembali,
aku hanya bertanya “berapa uang yang kau dapat?” tanya ku sambil menutup jendela. Tak ku
hiraukan apapun, kecuali ku lihat Ummi menitipkan hp ku pada abang supir, tak
ingin kuberfikir panjang lagi, yang penting aku tiba di Banda Aceh secepatnya
dan terbebas dari peluang me-ngatakan “ya” untuk mene-rima lamaran. Aku pun
berangkat dan selamat tiba di Banda Aceh waktu itu.
Tak
peduli apa yang terjadi besok, seberapa berat jalan yang ku hadapi nantinya,
yang penting biaya pengembalian for-mulir dan tempat tinggal ku ada. Walau pun
berat dan sakit yang ku hadapi, aku tak ingin memberatkan hati ku untuk
membenci dan menyesali apa yang telah terjadi, ku yakin ada hikmah yang besar
dibalik semua ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar