Minggu, 01 Desember 2013

(ARTIKEL) Bersuci Dalam Konsep Islam

Ditulis oleh: Muliadi Abd

Latar Belakang
Bersuci adalah salah satu syarat untuk mendirikan shalat. Hal itu dikarenakan, tidak akan diterima shalatnya seseorang jika ia belum membersihkan hadats yang ada pada dirinya. Sebagaimna hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sebagai berikut:

حديث أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ. أخرجه البخاري في: 90 كتاب الحيل: 2 باب في الصلاة
Artinya: “Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Allah tidak menerima shalat seorang yang berhadats sehingga wudhu”. (Al-Bukhari, Muslim).
Dalam hadis tersebut ketika Abu Hurairah meriwayatkan hadis ini, seorang laki-laki dari Hadramaut bertanya kepada Abu Hurairah: “Apakah hadats yang dimaksud itu wahai Abu Hurairah?”[1]. Beliau menjawab: “Yakni hadats kecil yang hanya mewajibkan wudhu' seperti kentut, kencing dan sebagainya”.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin membahas secara lebih mendalam bagaimana tata cara dalam bersuci yang telah terangkum di dalam beberapa pembahasan seperti: Membersihkan kencing, berwudhu’ secara sempurna, dan tayamum. Serta sedikit penulis paparkan di dalam makalah ini mengenai bagaimana tata cara mandi janabah yang sesuai dengan ajaran Islam melalui hadis Nabi saw.

     A.    Membersihkan Kencing

حديث ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِقَبْرَيْنِ، فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ؛ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَبْرِى مِنَ الْبَوْلِ؛ وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ، فَغَرَزَ فِي كلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ فَعَلْتَ هذَا قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا.
 أخرجه البخاري في: 4 كتاب الوضوء: 56 باب ما جاء في غسل البول

Artinya: “Ibn Abbas r.a. berkata: Nabi saw. berjalan melalui dua kubur, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya kedua orang dalam kubur sedan'g tersiksa, dan keduanya tidak tersiksa karena suatu dosa yang besar. Adapun yang satu maka tidak menyelesaikan (tuntas) jika kencing. Sedang yang kedua, maka biasa mengadu-adu (namimah). kemudian Nabi saw. mengambil dahan pohon yang masih basah- dan membelah dua lalu menancapkan pada tiap kubur satu potongan an itu. Sahabat bertanya: Mengapa engkau berbuat itu? Jawab beliau: “Semoga Allah meringankan keduanya selama dahan itu kering”. (Al-Bukhari, Muslim).

Menurut hadis yang shahih di atas, dapat kita ketahui bahwa hadis ini muncul ketika suatu kejadian di masa Rasul saw. Hadis di atas mengisyaratkan bahwa sangat wajib untuk membersihkan kencing. Membersihkan kencing yang dimaksud dari syarah hadis dalam kitab syarah milik Ibnu Hajar ini adalah membersihkan air kencing di sekitar tempat keluarnya.[2] Maksudnya ialah, ketika kita kencing maka kita diwajibkan untuk membersihkan anggota-anggota di samping lobang keluarnya air kencing tersebut.
Namun lain halnya bagi seseorang yang istijmar[3]. Orang tersebut diringankan hukum ini bagi dirinya. Artinya orang itu hanya dianjurkan untuk membersihkan tempat keluar kencing tersebut saja tanpa membersihkan sekelilingnya. Hal ini dikarenakan sebagai keringanan hukum bagi yang tidak memiliki air untuk bersuci.

     B.     Berwudhu’ Secara Sempurna

حديث عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ دَعَا بِإِنَاءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مِرَارٍ فَغَسَلَهُمَا، ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الإِنَاءِ، فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا، وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاَثَ مِرَارٍ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلاَثَ مِرَارٍ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، ثُمَّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
 أخرجه البخاري في: 4 كتاب الوضوء: 24 باب الوضوء ثلاثًا ثلاثًا

Artinya: “Usman bin Affan r.a. minta bejana air untuk wudhu', lalu menuangkan air membasuh kedua tapak tangannya tiga kali, kemudian memasukkan tangan ke dalam tempat air, lalu kumur dan menghirup dan mengeluarkan dari hidung, lalu membasuh muka tiga kali, dan kedua tangan sampai siku tiga kali, kemudian mengusap kepalanya, kemudian membasuh kedua kaki hingga mata kaki tiga kali, kemudian berkata: Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang wudhu' seperti wudhu'ku ini, lalu shalat dua raka'at dengan khusyu' tidak berkata apa-apa dalam hatinya, maka akan diampunkan dosanya yang telah lalu”. (Al-Bukhari, Muslim).
Berwudhu’ secara benar itu terdapat beberapa cara dari para ulama, tentunya hal ini menimbulkan banyak perbedaan sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat. Sebut saja seperti riwayat Ibnu Abbas yang menyebutkan bahwa ia pernah mengatakan Rasul saw berwudhu’ satu kali-satu kali, dengan maksudnya ialah membasuh setiap anggota wudhu satu kali. Selain Ibnu Abbas, ada pula Abdullah bin Zaid yang mengatakan Rasul saw pernah berwudhu’ dua kali-dua kali[4] yaitu pada saat membasuh kedua tangan hingga siku. Namun yang lebih umum atau masyhur di kalangan para ulama ialah hadits tentang berwudhu’ secara tiga kali-tiga kali yang diriwayatkan oleh Humran sesuai dengan hadis yang penulis cantumkan di atas.[5]
Berwudhu’ secara sempurna ialah dengan beberapa cara sebagaimana yang telah diajarkan oleh Utsman bin ‘Affan. Di antaranya ialah:
1.    Membasuh kedua telapak tangan
2.    Memasukkan air ke dalam mulut dan berkumur-kumur seraya memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya kembali
3.    Membasuh muka
4.    Menyapu kedua tangan hingga siku-siku
5.    Menyapu kepala
6.    Membasuh kaki
7.    Keseluruhanya dilakukan secara tiga kali-tiga kali. Kecuali berkumur yang tidak didapatkan riwayatnya mengenai jumlah hitungan untuk berkumur-kumur.[6]

     C.    Tayamum

حديثُ عَمَّارٍ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ؛ فَقَالَ: إِنِّي أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبِ الْمَاءَ، فَقَالَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ: أَمَا تَذْكُرُ أَنَّا كُنَّا فِي سَفَرٍ أَنَا وَأَنْتَ؛ فَأَمَّا أَنْتَ فَلَمْ تُصَلِّ، وَأَمَّا أَنَا فَتَمَعَّكْتُ فَصَلَّيْتُ، فَذَكَرْتُ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ هكَذَا، فَضَرَبَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِكَفَّيْهِ الأَرْضَ، وَنَفَخَ فِيهِمَا وَجْهَهُ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ.
أخرجه البخاري في: 7 كتاب التيمم: 4 باب المتيمم هل ينفخ فيهما
Artinya: “Seorang datang kepada Umar bin Alkhatthab r.a. dan bertanya: Saya berjanabat lalu tidak. mendapat air. Jawab Umar: Jangan shalat. Maka Ammar r.a. berkata kepada Umar: Ya amiral mu'minin. Apakah anda tidak ingat ketika aku bersamamu dalam bepergian lalu kita berdua berjanabat, adapun anda tidak sembahyang, sedang aku berguling-guling di tanah lalu shalat, lalu hal itu saya ceritakan kepada Nabi saw. lalu Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya cukup bagimu berbuat begini, lalu Nabi saw. memukulkan kedua tapak tangan ke tanah, lalu ditiup kemudian diusapkan mukanya dan kedua tapak tangannya”. (Al-Bukhari, Muslim).
Mengenai pembahasan tayamum, sangat banyak terdapat hadis-hadis mengenai perihal tersebut. Di antaranya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar bin khaththab, dan sahabat lainya seperti ‘Umar bin Yasir. Akan tetapi meskipun banyak hadis yang membahas tentang tayamum ini, tetapi maksud dari hadis-hadis tersebut sama. Hanya saja hadis-hadis tersebut berbeda redaksinya.
Di sini penulis ingin menggambarkan bagaimana proses tayamun yang diajarkan Rasul saw seseuai dengan hadis di atas.
Cara tayamun menurut hadis tersebut ialah dengan memukul kedua telapak tangan ke tanah, lalu diusapkan ke muka. Kemudian setelah itu memukul kembali sekali lagi ke tanah, lalu mengusapkannya pada tangan hingga siku.[7]
     D.    Mandi Janabah

حديث عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ فَيخَلِّلُ بهَا أُصُولَ شَعَرِه، ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ.
 أخرجه البخاري في: 5 كتاب الغسل: 1 باب الوضوء قبل الغسل
Artinya: “A'isyah r.a. berkata: Adanya Nabi saw. jika mandi janabat, membasuh kedua tapak tangannya lalu wudhu' sebagaimana wudhu' untuk shalat, kemudian memasukkan tangannya ke dalam air untuk membasuh sela-sela rambutnya sampai ke dalamnya, kemudian menuangkan air di atas kepalanya tiga kali dengan kedua tangannya, kemudian menyiram semua badannya”. (Al-Bukhari, Muslim).

Hadis di atas bermaksud ketika seseorang yang hendak mandi janabah, maka ia dianjurkan terlebih dahulu untuk berwudhu’ seperti ketika ingin melaksanakan shalat. Kemudian dilanjutkan dengan memasukkan tangan ke dalam air untuk membasuh sela-sela rambut sampai ke dalam kepala. Kemudian mengambil air kembali, lalu menuangkannya ke atas kepala hingga tiga kali. Kemudian terakhir menyiram semua anggota badan.
Timbul suatu pertanyaan di pikiran kita. Hal-hal apakah yang menyebabkan seseorang diwajibkan untuk mandi janabah?. 
Bedasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sebagai berikut:

حديث أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْل.
 أخرجه البخاري في: 5 كتاب الغسل: 28 باب إذا التقى الختانان
Artinya: “Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Jika duduk di antara cabangnya yang empat, kemudian menekannya, maka telah wajib mandi. (Al-Bukhari, Muslim). Dalam riwayat Muslim: Meskipun tidak keluar mani. Juga ada riwayat: Dan telah bersentuh kemaluan laki-laki dengan kemaluan isterinya yang disebut kemudian ditekankan”
Maka dapat kita temukan jawabanya ialah: Apabila seseorang telah bersentuh kemaluan laki-laki dengan perempuan, yang telah dinyatakan nyata secara perbuatan atau tindakan mereka telah berjunub, meskipun mereka tidak mengeluarkan mani.




[1] Amiruddin dkk, Terjemahan Fathul Baari Syarah Shahih Al-Bukhari Vol. 2, (Jakarta Selatan: Pustaka Azzam, 2007), Hal.  11
[2] Amiruddin dkk, Terjemahan Fathul Baari Syarah Shahih Al-Bukhari Vol. 2,,, Hal. 277
[3] Orang yang membersihkan kencing dengan batu.
[4] Amiruddin dkk, Terjemahan Fathul Baari Syarah Shahih Al-Bukhari Vol. 2,,, Hal. 80-81
[5] Amiruddin dkk, Terjemahan Fathul Baari Syarah Shahih Al-Bukhari Vol. 2,,, Hal. 81
[6] Amiruddin dkk, Terjemahan Fathul Baari Syarah Shahih Al-Bukhari Vol. 2,,, Hal. 82-83
[7] A. Hassan, Tarjamah Bulughul-Maram Ibnu Hajar ‘Al-Asqalani Jilid 1, (Bandung: C.V. Diponegoro, 1987), Hal. 100

1 komentar: