Sabtu, 11 Januari 2014

(OPINI) RAHMAT ALLAH MENGATASI MURKANYA



Oleh:   Muhammad Iqbal, Mahasiswa Tafsir-Hadits, Fak. Ushuluddin, UIN Ar-Raniry.
Editor: Muliadi Abd

وعن ابي هريرة رضي االله عنه قال: قال رسول الله صلى الله علىه و سلّم: لمّا خلق الله الخلق كتب فى كتاب, فهو عنده فوق العرش : إنّ رحمتى تغلب غضبي.( و في رواية : غلبت غضبي. و في رواية : سبقت غضبي) وعن ابي هريرة رضي االله عنه قال: قال رسول الله صلى الله علىه و سلّم: لمّا خلق الله الخلق كتب فى كتابه,وهو يكتب على نفسه وهو وضع عنده على العرش : إنّ رحمتى تغلب غضبي. (رواه البخاري : 7404 وعن ابي هريرة رضي االله عنه قال: قال رسول الله صلى الله علىه و سلّم: لمّا قضى الله الخلق كتب فى كتابه على نفسه, فهو موضوع عنده : إنّ رحمتي تغلب غضبي
Menurut Abi Dzar yang terdapat dalam kitab Syarah Hadits Fathul Bari, pada potongan hadits وهو يكتب على نفسه كتب فى كتابه  ada pendapat yang mengatakan tanpa menulis huruf (و) waw. Maka menurutnya jumlah atau kalimat ini dinamakan dengan jumlah haliyyah.
Kemudian pada potongan hadits يكتب على نفسه itu merupakan bayaan (penjelas) dari lafaz كتب. Lalu pada lafadz وضع dapat dibaca dengan dua cara, yaitu dengan fathah وَضَعَ  dan dapat juga dibaca dengan sukun موضوع. Dalam hal ini, digambarkan oleh I’yadh dari riwayat Abi Dzar bahwa وَضَعَ dengan fathah itu merupakan fi’il madhi yang mabni bagi fa’il.
Kemudian juga, riwayatnya dalam penulisan yang mu’tamad (kuat) dapat dibaca dengan kasrah dhah beserta tanwin وضِعٍ. Pada sabda Rasulullah saw: كتب فى كتاب yaitu, Allah memerintahkan Qalam untuk mencatat dalam kitab-Nya. Maksud dari itu adalah: Pencatatan tersebut bukan bertujuan agar Dia tidak lupa, tapi ini merupakan bentuk perhatian atas besarnya urusan itu. Di atas Arsy, ilmu itu di sisi-Nya tertulis dan disembunyikan dari seluruh makhluq.
Kemudian maksud dari kalam Allah إنّ رحمتى تغلب غضبي ialah: Kemurkaan merupakan ketetapan dari murka. Maksud dari kalimat di atas ialah menimpakan siksa kepada orang yang terkena murka-Nya. Dalam hal ini, mendahului dan memenangkan itu dengan melihat kepada ta’alluq-Nya, yaitu ta’alluq rahmat lebih kuat dari pada ta’alluq murka. Oleh karenanya rahmat itu merupakan ketetapan-Nya, sedangkan murka itu tergantung kepada amal hamba-Nya.
Ada beberapa ayat yang berhubungan dengan hadits tersebut. Diantaranya ialah surah al-An’am, ayat 54 yang artinya tertera sebagai berikut:

 “Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami itu datang kepadamu, Maka Katakanlah: "Salaamun alaikum’’. Rabbmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan Mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Penjelasannya ialah: كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ  “Rabbmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang (rahmat)”. Ayat ini menunjukkan sifat kitabah dan sifat rahmat bagi Allah. Kemudian surah Thaha ayat 5:  الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah. Yang menetap tinggi di atas ‘Arsy”. Lalu surah al-Kahfi ayat 58: وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ  “Dan Rabbmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat”.
At-Turbusyi dalam kitab Bad’ul Khalqi mengatakan bahwa, dalam mendahulukan Rahmat ada keterangan makhluq itu lebih banyak mendapat keadilan dalam rahmat dari pada dalam siksa. Hal itu dikarenkan rahmat Allah akan didapat meskipun dia tidak berhak, tetapi kemurkaan itu akan diterima oleh orang yang berhak.
Di dalam Fathul Bari, hadits di atas menjelaskan bahwa rahmat Allah ta’ala lebih dahulu ada dan lebih luas daripada murka-Nya. Hal itu disebabkan rahmat Allah ta’ala adalah sifat yang sudah melekat pada diri-Nya (sifat dzatiyyah) dan diberikan kepada makhluk-Nya tanpa sebab apapun. Dengan kata lain, walaupun tidak pernah ada jasa dan pengorbanan dari makhluk-Nya, pada asalnya Allah ta’ala tetap sayang kepada makhluk-Nya. Dia menciptakannya, memberi rizki kepadanya dari sejak dalam kandungan, ketika penyusuan, sampai dewasa, walaupun belum ada amal darinya untuk Allah ta’ala.
Sementara murka-Nya timbul dengan sebab pelanggaran dari makhluk-Nya. Maka dari itu, rahmat Allah ta’ala sudah tentu mendahului murka-Nya. Dari hadits di atas juga menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah yang diberikan kepada makhluk-Nya. Berikut kami sampaikan beberapa riwayat yang berkaitan dengan luasnya rahmat Allah ta’ala.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) itu seratus bagian, lalu Dia menahan di sisi-Nya 99 bagian dan Dia menurunkan satu bagiannya ke bumi. Dari satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang sesamanya, sampai-sampai seekor kuda mengangkat kakinya karena takut menginjak anaknya.” Dari Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.
Salah satu bentuk luasnya rahmat Allah adalah luasnya ampunan Allah bagi para hamba-Nya yang pernah melakukan kemaksiatan kepada Allah dengan cacatan selama hamba tersebut mau bertaubat.
Allah ta’ala berfirman dalam surah az-Zumar ayat 53:
 قل يا عباديَ الّذين اَسرفوُا على انفسهم لا تقنطوا من رحمة االله اٍن الله يغفز الذنوب جميعاً اٍنّه هو الغفور الرحيم “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ibnu Katsir Rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Ayat yang mulia ini berisi seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat baik kekafiran dan lainnya untuk segera bertaubat kepada Allah. Ayat ini mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang ingin bertaubat dari dosa-dosa tersebut, walaupun dosa tersebut amat banyak, bagaikan buih di lautan.” Kemudian beliau menambahkan, “Berbagai hadits menunjukkan bahwa Allah mengampuni setiap dosa (termasuk pula kesyirikan) jika seseorang mau bertaubat. Janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah, walaupun begitu banyak dosa yang ia lakukan karena pintu taubat dan rahmat Allah begitu luas.”
Kemudian dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah ta’ala berfirman, “Hai anak Adam, sungguh seandainya kamu datang menghadapKu dengan membawa dosa sepenuh bumi, dan kau datang tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatupun. Sungguh Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi, hasan) Banyak manusia yang terlena karena luasnya rahmat dan kasih sayang Allah terhadapnya, sehingga menjadikan dia merasa aman dari datangnya murka Allah disebabkan dosa dan kemaksiatan yang ia lakukan.
Perlu diingat bahwa: kemurkaan Allah bisa datang berupa adzab dan siksa baik di dunia maupun di akhirat. Allah ta’ala berfirman, اَفاَمنوا مكر الله فلا ياْمن مكر الله اِالاّ القوم الخاسرين  “Maka apakah mereka aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga datangnya)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf: 99).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa diantara sifat orang-orang musyrik adalah mereka merasa aman dari siksa Allah dan tidak merasa takut dari siksa-Nya. Maka hakikat adzab (makar) Allah ta’ala ialah Allah memberikan kelonggaran kepada seorang hamba yang senantiasa berbuat dosa dan maksiat dengan memudahkan urusannya (dalam bermaksiat) sehingga dia benar-benar merasa aman dari murka dan siksa-Nya.
Dalam hal ini Allah berfirman:
فلماّ نسوا ما ذكّروا به فتحنا عليهم اَبواب كلّ شيِئ حتّى إذا فرحوا بما أوتو أخذناهم بغتةً فاَءذا هم مبلسون
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa.” (QS. al-An'am: 44).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar