Oleh: Muhammad Iqbal, Mahasiswa Tafsir-Hadits, Fak. Ushuluddin, UIN
Ar-Raniry.
Editor: Muliadi Abd
Editor: Muliadi Abd
وعن ابي هريرة رضي االله عنه قال: قال رسول الله صلى
الله علىه و سلّم:
لمّا خلق الله الخلق كتب فى كتاب, فهو عنده فوق العرش :
إنّ رحمتى تغلب غضبي.( و في رواية : غلبت غضبي. و في رواية :
سبقت غضبي)
وعن ابي هريرة رضي االله عنه قال: قال رسول الله صلى الله
علىه و سلّم:
لمّا خلق الله الخلق كتب فى كتابه,وهو يكتب على نفسه وهو
وضع عنده على العرش : إنّ رحمتى تغلب غضبي. (رواه البخاري : 7404 وعن ابي هريرة رضي االله عنه قال: قال رسول الله صلى الله علىه و سلّم: لمّا
قضى الله الخلق كتب فى كتابه على نفسه, فهو موضوع عنده : إنّ رحمتي تغلب غضبي
Menurut Abi Dzar yang terdapat dalam kitab Syarah Hadits
Fathul Bari, pada potongan hadits وهو يكتب على
نفسه كتب فى كتابه ada pendapat yang mengatakan tanpa
menulis huruf (و) waw. Maka menurutnya jumlah atau kalimat ini
dinamakan dengan jumlah haliyyah.
Kemudian pada potongan hadits يكتب
على نفسه itu
merupakan bayaan (penjelas) dari lafaz كتب. Lalu pada lafadz وضع dapat
dibaca dengan dua cara, yaitu dengan fathah وَضَعَ dan dapat juga dibaca dengan sukun موضوع. Dalam
hal ini, digambarkan oleh I’yadh dari riwayat Abi Dzar bahwa وَضَعَ
dengan fathah itu merupakan fi’il madhi yang mabni bagi fa’il.
Kemudian juga, riwayatnya dalam penulisan yang mu’tamad (kuat)
dapat dibaca dengan kasrah dhah beserta tanwin وضِعٍ. Pada sabda Rasulullah saw: كتب فى كتاب yaitu, Allah memerintahkan Qalam untuk mencatat
dalam kitab-Nya. Maksud dari itu adalah: Pencatatan tersebut bukan
bertujuan agar Dia tidak lupa, tapi ini merupakan bentuk perhatian atas
besarnya urusan itu. Di atas Arsy, ilmu itu di sisi-Nya tertulis dan disembunyikan
dari seluruh makhluq.
Kemudian maksud dari kalam Allah إنّ
رحمتى تغلب غضبي
ialah: Kemurkaan merupakan ketetapan dari murka. Maksud dari kalimat
di atas ialah menimpakan siksa kepada orang yang terkena murka-Nya. Dalam hal
ini, mendahului dan memenangkan itu dengan melihat kepada ta’alluq-Nya, yaitu
ta’alluq rahmat lebih kuat dari pada ta’alluq murka. Oleh karenanya rahmat itu
merupakan ketetapan-Nya, sedangkan murka itu tergantung kepada amal hamba-Nya.
Ada beberapa ayat yang berhubungan dengan hadits tersebut. Diantaranya
ialah surah al-An’am, ayat 54 yang artinya tertera sebagai berikut:
“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami itu datang kepadamu,
Maka Katakanlah: "Salaamun alaikum’’. Rabbmu telah menetapkan atas
Diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan
di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya
dan Mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”.
Penjelasannya ialah: كَتَبَ
رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ “Rabbmu
telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang (rahmat)”. Ayat ini menunjukkan
sifat kitabah dan sifat rahmat bagi Allah. Kemudian surah Thaha ayat 5: الرَّحْمَنُ عَلَى
الْعَرْشِ اسْتَوَى“(Yaitu)
Rabb Yang Maha Pemurah. Yang menetap tinggi di atas ‘Arsy”. Lalu surah
al-Kahfi ayat 58: وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو
الرَّحْمَةِ “Dan
Rabbmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat”.
At-Turbusyi dalam kitab Bad’ul Khalqi mengatakan
bahwa, dalam mendahulukan Rahmat ada keterangan makhluq itu lebih banyak
mendapat keadilan dalam rahmat dari pada dalam siksa. Hal itu dikarenkan rahmat
Allah akan didapat meskipun dia tidak berhak, tetapi kemurkaan itu akan
diterima oleh orang yang berhak.
Di dalam Fathul Bari, hadits di atas menjelaskan bahwa
rahmat Allah ta’ala lebih dahulu ada dan lebih luas daripada murka-Nya. Hal itu
disebabkan rahmat Allah ta’ala adalah sifat yang sudah melekat pada diri-Nya
(sifat dzatiyyah) dan diberikan kepada makhluk-Nya tanpa sebab apapun. Dengan
kata lain, walaupun tidak pernah ada jasa dan pengorbanan dari makhluk-Nya,
pada asalnya Allah ta’ala tetap sayang kepada makhluk-Nya. Dia menciptakannya,
memberi rizki kepadanya dari sejak dalam kandungan, ketika penyusuan, sampai
dewasa, walaupun belum ada amal darinya untuk Allah ta’ala.
Sementara murka-Nya timbul dengan sebab pelanggaran dari
makhluk-Nya. Maka dari itu, rahmat Allah ta’ala sudah tentu mendahului
murka-Nya. Dari hadits di atas juga menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah
yang diberikan kepada makhluk-Nya. Berikut kami sampaikan beberapa riwayat yang
berkaitan dengan luasnya rahmat Allah ta’ala.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu berkata: Saya mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Allah menjadikan rahmat
(kasih sayang) itu seratus bagian, lalu Dia menahan di sisi-Nya 99 bagian dan
Dia menurunkan satu bagiannya ke bumi. Dari satu bagian inilah seluruh makhluk
berkasih sayang sesamanya, sampai-sampai seekor kuda mengangkat kakinya karena
takut menginjak anaknya.” Dari Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau
menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan
tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang
mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan
itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu
ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Kami menjawab, “Tidak
mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke
dalamnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh
Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.
Salah satu bentuk luasnya rahmat Allah adalah luasnya ampunan
Allah bagi para hamba-Nya yang pernah melakukan kemaksiatan kepada Allah dengan
cacatan selama hamba tersebut mau bertaubat.
Allah ta’ala berfirman dalam surah az-Zumar ayat 53:
قل يا عباديَ الّذين اَسرفوُا على انفسهم لا تقنطوا من رحمة االله اٍن
الله يغفز الذنوب جميعاً اٍنّه هو الغفور الرحيم “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku
yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ibnu Katsir Rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Ayat yang
mulia ini berisi seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat baik kekafiran
dan lainnya untuk segera bertaubat kepada Allah. Ayat ini mengabarkan bahwa Allah
akan mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang ingin bertaubat dari dosa-dosa
tersebut, walaupun dosa tersebut amat banyak, bagaikan buih di lautan.”
Kemudian beliau menambahkan, “Berbagai hadits menunjukkan bahwa Allah
mengampuni setiap dosa (termasuk pula kesyirikan) jika seseorang mau bertaubat.
Janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah, walaupun begitu banyak dosa
yang ia lakukan karena pintu taubat dan rahmat Allah begitu luas.”
Kemudian dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, Saya mendengar
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah ta’ala berfirman, “Hai
anak Adam, sungguh seandainya kamu datang menghadapKu dengan membawa dosa
sepenuh bumi, dan kau datang tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatupun. Sungguh
Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Banyak manusia yang terlena karena luasnya rahmat dan kasih sayang Allah
terhadapnya, sehingga menjadikan dia merasa aman dari datangnya murka Allah
disebabkan dosa dan kemaksiatan yang ia lakukan.
Perlu diingat bahwa: kemurkaan Allah bisa datang berupa adzab
dan siksa baik di dunia maupun di akhirat. Allah ta’ala berfirman, اَفاَمنوا مكر الله فلا ياْمن مكر الله اِالاّ القوم الخاسرين “Maka apakah mereka aman dari adzab
Allah (yang tidak terduga-duga datangnya)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab
Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf: 99).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa diantara sifat orang-orang
musyrik adalah mereka merasa aman dari siksa Allah dan tidak merasa takut dari
siksa-Nya. Maka hakikat adzab (makar) Allah ta’ala ialah Allah memberikan
kelonggaran kepada seorang hamba yang senantiasa berbuat dosa dan maksiat
dengan memudahkan urusannya (dalam bermaksiat) sehingga dia benar-benar merasa
aman dari murka dan siksa-Nya.
Dalam hal ini Allah berfirman:
فلماّ نسوا ما ذكّروا به فتحنا عليهم اَبواب كلّ شيِئ حتّى إذا فرحوا
بما أوتو أخذناهم بغتةً فاَءذا هم مبلسون
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah
diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk
mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka
terdiam dan berputus asa.” (QS. al-An'am: 44).
