Sabtu, 20 Juli 2013

(OPINI) Nama Itu Do'a

Ditulis Oleh: Muliadi Abd
Mahasiswa Tafsir-Hadits, Fakultas Ushuluddin, IAIN Ar-Raniry


Banyak di antara kita yang masih menyepelekan dalam hal memberi dan memanggil nama si buah hati. Padahal jika kita telusuri lebih mendalam, nama itu akan menjadi do'a bagi si anak.

Pembaca yang budiman. Ketika kita maupun sanak saudara kita di dalam memberikan sebuah nama, tentu perlu kehati-hatian yang sangat besar. Janganlah sampai kita menjadikan si buah hati di do'akan menjadi orang yang tidak baik.

Pada kesempatan kali ini, kami ingin memberikan beberapa contoh, yang kiranya dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua, terutama bagi penulis pribadi. Di antara beberapa contoh nama panjang dan nama panggilan yang salah adalah sebagai berikut:

1. Maisir Cahyadi
Dari segi lahirnya, mungkin nama tersebut terlihat keren dan beken. Namun ketika kita merujuk pada makna di balik nama tersebut, terdapat kata "Maisir" yang bermakna Narkoba. Maka sangat memilukan ketika kita mendengar panggilan tersebut terhadap si buah hati kita.

2. Krisna Diana
Dari nama tersebut juga teradapat suatu kata yang sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam. Kata "Krisna" berasal dari kata agama Kristen. Tentu kita sebagai orang Islam terasa bertolakbelakang dengan nama tersebut.

3. Nurul Fitri
Nama tersebut sangat indah. Begitupun dengan makna dari nama tersebut yang berarti " Cahaya Yang Suci/Bersih ". Namun yang menjadi persoalannya ialah, panggilan dari nama tersebut kerap keliru atau salah dalam penyebutannya. Banyak di antara kita yang memanggil dengan kata "Nurul". Padahal jika kita telusuri, makna dari kata "Nurul" itu ialah "Cahaya Yang". Tentu jika kita mengatakan kalimat tersebut dalam bahasa kita sehari-hari, maka akan terlihat lucu. Hal tersebut dikarenakan, tidak ada kalimat penjelas terhadap makna kata "Nurul" tersebut. "Cahaya yang bagaimana" tentu pertanyaan itu akan muncul di dalam benak kita. Oleh karena itu, lebih baik panggil akan si buah hati yang bernama "Nurul Fitri" dengan nama panggilan "Nur atau Fitri". Karena keduanya memiliki arti/makna yang bagus yaitu Cahaya(Nur) dan Suci(Fitri).

Tentu masih sangat banyak contoh-contoh yang lain. Oleh karena itu, mari kita selalu untuk berhati-hati dalam hal ini. Jika memang kita kurang memiliki ilmu dalam hal ini, maka tanyakan
kepada ustadz-ustadzah yang ahli dalam hal tersebut. Prioritaskanlah kedua-duanya. Artinya, tidak hanya nama panjangnya saja, akan tetapi tanyakan juga nama panggilan yang benar
untuk si buah hati.




Jumat, 19 Juli 2013

(KHUTBAH) KEUTAMAAN MENGUCAP “AMIN” PADA AKHIR SURAH AL-FATIHAH


Ditulis Oleh: Muliadi Abd
Mahasiswa Tafsir-Hadits, Fakultas Ushuluddin, IAIN Ar-Raniry

Inti sari khutbah juma’at di Masjid Besar Syuhada Lamgugob, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh oleh Bapak Dr. H. Syamsul Rijal, M.Ag, pada Jum’at, 19/07/2013, ialah mengenai keutamaan membaca amin pada akhir Surah Al-Fatihah di dalam shalat berjama’ah.
Beliau menuturkan bahwa “sangat banyak di antara saudara-saudara kita yang tidak menyaringkan suaranya ketika membaca amin setelah Imam membaca ayat terakhir di dalam Surah Al-Fatihah ketika shalat berjama’ah. Mungkin mereka belum sepenuhnya mengetahui faedah atau maksud dari membaca amin tersebut”.
Kemudian khatib tersebut menjelaskan bahwa, di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasul saw menganjurkan kita untuk membaca amin di akhir surah al-fatihah. Hadits tersebut adalah:
صحيح مسلم ٦١٩: حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو أَنَّ أَبَا يُونُسَ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ :أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ آمِينَ وَالْمَلَائِكَةُ فِي السَّمَاءِ آمِينَ فَوَافَقَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Shahih Muslim 619: Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya Telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Amru bahwa Abu Yunus telah menceritakan kepadanya, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian mengucapkan dalam shalat, ‘Amin‘. Sedangkan malaikat di langit mengucapkan, ‘Amin‘, lalu satu dengan lainnya saling bersesuaian, niscaya dosanya yang telah lalu diampuni.”
Dari hadits shahih tersebut jelas bahwa: Apabila di antara kita mengucapkan amin dalam shalat berjama’ah, sedangkan malaikat di langit juga mengucapkan, maka dosa kita yang lalu akan terampuni.
Oleh karena itu, khatib mengajak jama’ah semua untuk senantiasa mengucapkan amin secara bersama, sehingga dosa-dosa kita yang lalu akan diampuni oleh Allah swt.

(OPINI) Ramadhan, Momentum Back To Reading Qur'an

Ditulis Oleh: Muliadi Abd
Mahasiswa Tafsir-Hadits, Fakultas Ushuluddin, IAIN Ar-Raniry

Al-Qur'an merupakan kitab yang diturunkan oleh Allah swt kepada 
Nabi saw. Al-Qur'an juga menjadi sebagai petunjuk bagi umat Islam di seluruh alam jagat raya ini.

Seiring berkembangnya zaman, Al-Qur'an seolah-olah hanya tinggal menjadi sebuah kitab yang memiliki tulisan. Hal ini disebabkan oleh sibuknya manusia-manusia dalam meniti karirnya di masa depan. Sungguh memilukan apabila kita melihat fenomena ini. Bagaimana Islam akan
kembali maju jika Al-Qur'an hanya menjadi pajangan-pajangan di atas lemari. 

Menanggapi persoalan tersebut, Ramadhan hadir di tengah-tengah kelalaian kita. Ramadhan menjadi bulan yang membuat 
orang-orang kembali
membaca Al-Qur'an. Meskipun masih ada segelintiran manusia-manusia yang luput dari hidupnya akan membaca Al-Qur'an.

Perlu kita ketahui bersama, bahwa bukan dengan mudah Al-Qur'an itu menjadi bentuk seperti yang kita lihat di masa kini.
Darah dan nyawa menjadi taruhan oleh orang-orang terdahulu dalam menyampaikan anjuran maupun perintah yang terdapat di dalam Al-Qur'an. Apakah kita hanya dapat menjadikan itu semua menjadi sebuah kisah atau sejarah Islam di masa lampau?. Rasanya sangat memalukan dengan kita menjadi generasi selanjutnya, Islam bukan semakin maju akan tetapi Islam semakin mundur. Kemanakah hati nurani kita yang cinta pada Allah, Rasul, serta Kitab-Nya?. Tentu hal tersebut, kita usahakan untuk tidak menjadi sebatas simbolis ataupun sebuah perkataan yang tidak sampai ke dalam hati.

Oleh karena itu, dengan momentum ramadhan pada tahun ini, mari kita jadikan bulan yang suci ini menjadi pengembalian diri kita untuk senantiasa mencintai dan membaca Al-Qur'an.
Terlebih ramadhan merupakan bulan turunnya kalam Allah tersebut seperti yang tersirat di dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 185. Sungguh Al-Qur'an menjadi kitab sebagai petunjuk bagi manusia, agar dapat membedakan antara yang haq dan bathil, atau antara yang benar dan salah.

Mari jadikan ramadhan sebagai momentum back to reading Al-Qur'an, yaitu momentum kembali membaca Al-Qur'an.