Ditulis oleh: Muliadi Abd
Latar Belakang
Bersuci adalah salah satu syarat untuk mendirikan
shalat. Hal itu dikarenakan, tidak akan diterima shalatnya seseorang jika ia
belum membersihkan hadats yang ada pada dirinya. Sebagaimna hadis yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah sebagai berikut:
حديث أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه
وسلم قَالَ: لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ
حَتَّى يَتَوَضَّأَ. أخرجه
البخاري في: 90 كتاب الحيل: 2
باب في الصلاة
Artinya: “Abu
Hurairah r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Allah tidak menerima shalat seorang
yang berhadats sehingga wudhu”. (Al-Bukhari, Muslim).
Dalam hadis
tersebut ketika Abu Hurairah meriwayatkan hadis ini, seorang laki-laki dari
Hadramaut bertanya kepada Abu Hurairah: “Apakah hadats yang dimaksud itu
wahai Abu Hurairah?”[1].
Beliau menjawab: “Yakni hadats kecil yang hanya mewajibkan wudhu' seperti
kentut, kencing dan sebagainya”.
Oleh
karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin membahas secara lebih mendalam
bagaimana tata cara dalam bersuci yang telah terangkum di dalam beberapa
pembahasan seperti: Membersihkan kencing, berwudhu’ secara sempurna, dan
tayamum. Serta sedikit penulis paparkan di dalam makalah ini mengenai bagaimana
tata cara mandi janabah yang sesuai dengan ajaran Islam melalui hadis Nabi saw.
A.
Membersihkan
Kencing
حديث
ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله
عليه وسلم بِقَبْرَيْنِ، فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ،
وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ؛ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَبْرِى مِنَ
الْبَوْلِ؛ وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ
جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ، فَغَرَزَ فِي كلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً
قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ فَعَلْتَ هذَا قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ
عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا.
أخرجه البخاري في: 4
كتاب الوضوء: 56
باب ما جاء في غسل البول
Artinya: “Ibn Abbas r.a. berkata: Nabi saw.
berjalan melalui dua kubur, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya kedua orang
dalam kubur sedan'g tersiksa, dan keduanya tidak tersiksa karena suatu dosa yang
besar. Adapun yang satu maka tidak menyelesaikan (tuntas) jika kencing. Sedang
yang kedua, maka biasa mengadu-adu (namimah). kemudian Nabi saw. mengambil
dahan pohon yang masih basah- dan membelah dua lalu menancapkan pada tiap kubur
satu potongan an itu. Sahabat bertanya: Mengapa engkau berbuat itu? Jawab
beliau: “Semoga Allah meringankan keduanya selama dahan itu kering”. (Al-Bukhari,
Muslim).
Menurut hadis yang shahih di atas, dapat kita
ketahui bahwa hadis ini muncul ketika suatu kejadian di masa Rasul saw. Hadis
di atas mengisyaratkan bahwa sangat wajib untuk membersihkan kencing.
Membersihkan kencing yang dimaksud dari syarah hadis dalam kitab syarah milik
Ibnu Hajar ini adalah membersihkan air kencing di sekitar tempat keluarnya.[2]
Maksudnya ialah, ketika kita kencing maka kita diwajibkan untuk membersihkan
anggota-anggota di samping lobang keluarnya air kencing tersebut.
Namun lain halnya bagi seseorang yang istijmar[3].
Orang tersebut diringankan hukum ini bagi dirinya. Artinya orang itu hanya dianjurkan
untuk membersihkan tempat keluar kencing tersebut saja tanpa membersihkan
sekelilingnya. Hal ini dikarenakan sebagai keringanan hukum bagi yang tidak
memiliki air untuk bersuci.
B.
Berwudhu’ Secara Sempurna
حديث عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ دَعَا بِإِنَاءٍ
فَأَفْرَغَ عَلَى كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مِرَارٍ فَغَسَلَهُمَا، ثُمَّ أَدْخَلَ
يَمِينَهُ فِي الإِنَاءِ، فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ
ثَلاَثًا، وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاَثَ مِرَارٍ، ثُمَّ مَسَحَ
بِرَأْسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلاَثَ مِرَارٍ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، ثُمَّ
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ
وُضُوئِي هذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ
لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
أخرجه البخاري في: 4
كتاب الوضوء: 24
باب الوضوء ثلاثًا ثلاثًا
Artinya:
“Usman bin Affan r.a. minta bejana air untuk wudhu', lalu menuangkan air
membasuh kedua tapak tangannya tiga kali, kemudian memasukkan tangan ke dalam
tempat air, lalu kumur dan menghirup dan mengeluarkan dari hidung, lalu
membasuh muka tiga kali, dan kedua tangan sampai siku tiga kali, kemudian
mengusap kepalanya, kemudian membasuh kedua kaki hingga mata kaki tiga kali,
kemudian berkata: Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang wudhu' seperti wudhu'ku
ini, lalu shalat dua raka'at dengan khusyu' tidak berkata apa-apa dalam
hatinya, maka akan diampunkan dosanya yang telah lalu”. (Al-Bukhari,
Muslim).
Berwudhu’ secara benar itu terdapat beberapa
cara dari para ulama, tentunya hal ini menimbulkan banyak perbedaan sesuai
dengan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat. Sebut saja seperti riwayat Ibnu
Abbas yang menyebutkan bahwa ia pernah mengatakan Rasul saw berwudhu’ satu
kali-satu kali, dengan maksudnya ialah membasuh setiap anggota wudhu satu kali.
Selain Ibnu Abbas, ada pula Abdullah bin Zaid yang mengatakan Rasul saw pernah
berwudhu’ dua kali-dua kali[4]
yaitu pada saat membasuh kedua tangan hingga siku. Namun yang lebih umum atau
masyhur di kalangan para ulama ialah hadits tentang berwudhu’ secara tiga
kali-tiga kali yang diriwayatkan oleh Humran sesuai dengan hadis yang penulis
cantumkan di atas.[5]
Berwudhu’ secara sempurna ialah dengan
beberapa cara sebagaimana yang telah diajarkan oleh Utsman bin ‘Affan. Di
antaranya ialah:
1. Membasuh kedua telapak tangan
2. Memasukkan air ke dalam mulut dan
berkumur-kumur seraya memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya
kembali
3. Membasuh muka
4. Menyapu kedua tangan hingga siku-siku
5. Menyapu kepala
6. Membasuh kaki
7. Keseluruhanya dilakukan secara tiga kali-tiga
kali. Kecuali berkumur yang tidak didapatkan riwayatnya mengenai jumlah
hitungan untuk berkumur-kumur.[6]
C.
Tayamum
حديثُ عَمَّارٍ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عُمَرَ بْنِ
الْخَطَّابِ؛ فَقَالَ: إِنِّي أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبِ الْمَاءَ، فَقَالَ
عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ: أَمَا تَذْكُرُ أَنَّا كُنَّا
فِي سَفَرٍ أَنَا وَأَنْتَ؛ فَأَمَّا أَنْتَ فَلَمْ تُصَلِّ، وَأَمَّا أَنَا
فَتَمَعَّكْتُ فَصَلَّيْتُ، فَذَكَرْتُ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ
النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ هكَذَا، فَضَرَبَ
النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِكَفَّيْهِ الأَرْضَ، وَنَفَخَ فِيهِمَا وَجْهَهُ،
ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ.
أخرجه البخاري في: 7 كتاب التيمم: 4 باب المتيمم
هل ينفخ فيهما
Artinya: “Seorang datang
kepada Umar bin Alkhatthab r.a. dan bertanya: Saya berjanabat lalu tidak.
mendapat air. Jawab Umar: Jangan shalat. Maka Ammar r.a. berkata kepada Umar:
Ya amiral mu'minin. Apakah anda tidak ingat ketika aku bersamamu dalam
bepergian lalu kita berdua berjanabat, adapun anda tidak sembahyang, sedang aku
berguling-guling di tanah lalu shalat, lalu hal itu saya ceritakan kepada Nabi
saw. lalu Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya cukup bagimu berbuat begini, lalu
Nabi saw. memukulkan kedua tapak tangan ke tanah, lalu ditiup kemudian
diusapkan mukanya dan kedua tapak tangannya”. (Al-Bukhari, Muslim).
Mengenai
pembahasan tayamum, sangat banyak terdapat hadis-hadis mengenai perihal
tersebut. Di antaranya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar bin
khaththab, dan sahabat lainya seperti ‘Umar bin Yasir. Akan tetapi meskipun
banyak hadis yang membahas tentang tayamum ini, tetapi maksud dari hadis-hadis
tersebut sama. Hanya saja hadis-hadis tersebut berbeda redaksinya.
Di sini
penulis ingin menggambarkan bagaimana proses tayamun yang diajarkan Rasul saw
seseuai dengan hadis di atas.
Cara
tayamun menurut hadis tersebut ialah dengan memukul kedua telapak tangan ke
tanah, lalu diusapkan ke muka. Kemudian setelah itu memukul kembali sekali lagi
ke tanah, lalu mengusapkannya pada tangan hingga siku.[7]
D.
Mandi Janabah
حديث
عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه
وسلم كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ، ثُمَّ
يَتَوَضَّأُ كمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي
الْمَاءِ فَيخَلِّلُ بهَا أُصُولَ شَعَرِه، ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ
غُرَفٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ.
أخرجه البخاري في: 5 كتاب الغسل: 1 باب الوضوء قبل الغسل
Artinya: “A'isyah r.a. berkata: Adanya Nabi saw.
jika mandi janabat, membasuh kedua tapak tangannya lalu wudhu' sebagaimana
wudhu' untuk shalat, kemudian memasukkan tangannya ke dalam air untuk membasuh
sela-sela rambutnya sampai ke dalamnya, kemudian menuangkan air di atas
kepalanya tiga kali dengan kedua tangannya, kemudian menyiram semua badannya”.
(Al-Bukhari, Muslim).
Hadis di atas bermaksud
ketika seseorang yang hendak mandi janabah, maka ia dianjurkan terlebih dahulu
untuk berwudhu’ seperti ketika ingin melaksanakan shalat. Kemudian dilanjutkan
dengan memasukkan tangan ke dalam air untuk membasuh sela-sela rambut sampai ke
dalam kepala. Kemudian mengambil air kembali, lalu menuangkannya ke atas kepala
hingga tiga kali. Kemudian terakhir menyiram semua anggota badan.
Timbul suatu pertanyaan di
pikiran kita. Hal-hal apakah yang menyebabkan seseorang diwajibkan untuk mandi
janabah?.
Bedasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah
sebagai berikut:
حديث
أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: إِذَا جَلَسَ بَيْنَ
شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْل.
أخرجه البخاري في: 5 كتاب الغسل: 28 باب إذا التقى الختانان
Artinya: “Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi saw.
bersabda: Jika duduk di antara cabangnya yang empat, kemudian menekannya, maka
telah wajib mandi. (Al-Bukhari, Muslim). Dalam riwayat Muslim: Meskipun tidak
keluar mani. Juga ada riwayat: Dan telah bersentuh kemaluan laki-laki dengan
kemaluan isterinya yang disebut kemudian ditekankan”
Maka dapat kita temukan jawabanya ialah: Apabila seseorang telah bersentuh
kemaluan laki-laki dengan perempuan, yang telah dinyatakan nyata secara
perbuatan atau tindakan mereka telah berjunub, meskipun mereka tidak
mengeluarkan mani.
[1] Amiruddin dkk, Terjemahan Fathul
Baari Syarah Shahih Al-Bukhari Vol. 2, (Jakarta Selatan: Pustaka Azzam,
2007), Hal. 11
[2] Amiruddin dkk, Terjemahan Fathul
Baari Syarah Shahih Al-Bukhari Vol. 2,,, Hal. 277
[3] Orang yang membersihkan kencing dengan batu.
[4] Amiruddin dkk, Terjemahan Fathul
Baari Syarah Shahih Al-Bukhari Vol. 2,,, Hal. 80-81
[5] Amiruddin dkk, Terjemahan Fathul
Baari Syarah Shahih Al-Bukhari Vol. 2,,, Hal. 81
[6] Amiruddin dkk, Terjemahan Fathul
Baari Syarah Shahih Al-Bukhari Vol. 2,,, Hal. 82-83
[7] A. Hassan, Tarjamah Bulughul-Maram Ibnu
Hajar ‘Al-Asqalani Jilid 1, (Bandung: C.V. Diponegoro, 1987), Hal. 100
