Oleh: Muliadi Abd
Derui angin
yang sejuk melambai, kisah cinta terangkai di waktu pagi. Bunga di taman
semerbak indah-nya, kampusku tercinta bagaikan istana 2 cinta.
Begitulah suasana di kampus, yang sangat Risky cintai itu.
***SIAPA ITU
PAHLAWAN***
“Hari ini hari pahlawan ya”. Tanya Firdaus kepada Risky.
“Iya Sob. Jika menurutmu, siapa pahlawan yang sangat kamu sukai”.
“Kalau aku sih, Cut Nyak Dhien. Sudah cantik, jadi pahlawan
lagi”.
“Dari mana kamu tahu beliau itu cantik?. Apa kamu sudah pernah berjumpa dengannya?”.
“Belum sih, tapi kan ada photonya”.
“Hehehe. Apa kamu yakin itu photo asli beliau?”.
“Entahlah. yang terpenting itu ialah, beliau merupakan seorang
pahlawan kita. Terus kalau kamu siapa?”.
“Kalau aku sih, Dosen-dosenku semua yang ada di kampus ini”.
“Loh, kenapa begitu?”.
“Ya iya lah. Coba kamu berpikir. Dari mana
ilmu yang kita dapatkan?”.
“Dari mereka”.
“Nah itu kamu tahu. Pahlawan itu menurut aku
bukan hanya pahlawan yang terjun dalam medan peperangan. Akan tetapi pahlawan
itu juga ada dalam dunia keilmuan. Jika tiada mereka, mungkin kita ini akan
menjadi orang yang bodoh sepanjang masa. Bahkan kita juga akan mudah
ter-jerumus ke dalam hal-hal yang dianggap sesat, bila kita tiada di ajarkan
ilmu oleh mereka”.
“Iya juga ya. Kenapa aku tidak berpikir seperti itu”.
“Assalamu’alaikum”. Salam Lainun kepada Risky
dan Firdaus.
“Wa’alaikum salam”.
“Asik bener perbincangan kalian. Hayooo, lagi
ngegosipin apa?. hahaha”.
“Loh, siapa yang lagi ngegosip. Kita lagi ngomongin tentang pahlawan kok”. Jawab Firdaus
“Iya-iya. Bercanda
pun tak boleh. Memangnya pahlawan apa yang kalian bicarakan?”. Balas Lainun.
“Anak kecil mau tahu saja urusan orang tua, hahaha”. Balas Firdaus.
“Kalian gitu banget sih”. Jawab Lainun ngambek.
“Hmm, ada-ada saja kalian. Udah ah, jangan asik bercanda. Begini Lainun. Kami tadi membicarakan perihal pahlawan-pahlawan yang kami sukai. Kalau Firdaus itu suka kepada
pahlawan kita, yaitu Cut Nyak Dhien. Akan tetapi kalau Risky sendiri
sih, selain mengidolakan pahlawan medan perang seperti yang telah disebutkan
oleh Firdaus, Risky juga mengidolakan pahlawan di medan ilmu pengetahuan. Seperti dosen-dosen atau guru-guru kita. Begitu
Lainun”. Sambung Risky menjelaskan.
“Oooooo, gitu...”.
“Jika begitu, bagaimana kira-kira cara kita
untuk menghormati para pahlawan yang berada di medan peperangan dengan pahlawan
yang berada di dalam medan ilmu pengetahuan?”. Tanya Lainun.
“Sangat banyak. Salah satunya ialah kita
benar-benar menyimak ilmu yang diberikan kepada kita di saat dosen atau guru
menerangkan perkuliahan. Kemudian jika untuk pahlawan di medan pertempuran,
caranya ialah dengan menjaga pusaka yang telah mereka perjuangkan, serta
meneruskan per-juangan mereka. Yaitu seperti membangun peradaban negeri yang
makmur, sejahtera, dan aman lagi tenteram”. Jawab Risky.
“Loh, bukankah itu tugas Pemerintah?”.
“Lainun. Tugas membangun peradaban itu bukan
hanya tugas Pemerintah. Tetapi hal itu juga menjadi tugas penting bagi kita. Kita
kan punya hak dan kewajiban atas warga negara. Jika inginkan hak tentu
laksanakan terlebih dahulu kewajiban kita. Contohnya kita sebagai mahasiswa. Berarti
kita harus belajar ilmu pengetahuan itu dengan baik. Karena dengan demikian,
ilmu yang sudah kita tuntut di masa
sekarang bisa diaplikasikan kepada negara kita di masa depan”. Sambung Risky
kembali.
“Iya ya. Napa aku tidak berpikiran seperti itu
ya?”.
“Hehehe. Makanya banyakin online daripada
ngebaca buku”. Balas Firdaus.
“Hmm. Udah-udah, asik berantem aja. Nanti jadi cinta loh, hehehe”.
Ujar Risky.
“Ih, siapa yang mau
sama orang macam dia. Amit-amit deh”. Balas
Lainun
“Siapa juga yang mau sama kamu?”. kata
Firdaus.
“Hahaha, ada-ada saja kalian ini. Udah-udah ah, kalian itu kok gak pernah akur sih. Gimana mau jadi seperti pahlawan jika kalian terus seperti ini. Ingat: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Balas Risky.
***
Setelah pembicaraan tersebut. Mereka kembali memasuki perkuliahan yang kedua. Pada kesempatan kali ini,
sang Dosen yang bernama Pak Arief memberikan mata kuliahnya tentang peran
pahlawan sebagai Agent of change.
Beliau
menjelaskan tentang pahlawan tersebut yang merupakan pahlawan di bidang ilmu
pengetahuan. Menurutnya, seorang dosen atau orang yang sering memberikan ilmu
untuk mahasiswa juga disebut sebagai pahlawan. dikarenakan beliau mengajarkan serta
menerapkan ilmu yang dipelajari untuk
dikembangkan. Dengan demikian, beliau telah menjadi Agent of change atau pelopor perubahan dengan ilmu yang telah disalurkan kepada kita.
*** AGEN PERUBAHAN***
“Pak. Kalau demikian, Bagaimana kita memaknai Agent of change itu sebagai pahlawan?. Sedangkan yang saya ketahui, agent itu adalah agen honda[1]
yang membantu orang lain dengan mengharap upah kerja dari orang lain”. Tanya Ilham
“Hmm. Bila kita menilai Agent of change itu
hanya sebatas seperti yang Ilham katakan, maka agent itu jadi agen honda saja. Namun yang sebenarnya, Agent of change itu bukan hanya berarti
demikian. Melainkan bisa berarti pelopor yang membawa
perubahan”. Sambung Pak Arief.
***
*** LOWONGAN JADI PAHLAWAN***
“Ah,
pahlawan. Apa aku bisa ya seperti mereka?. Rasanya ingin banget jadi pahlawan
yang mau membantu orang yang lemah. Tetapi gimana caranya ya?. Melihat anjing
menggonggong saja jadi takut. Apalagi mau melawan penjahat, huuuh”. Cerutu
Firdaus dalam hati.
“Kenapa Sob, asyik melamun aja?”. Tanya Risky.
“Ky, aku sedang memikirkan untuk jadi
pahlawan. Tapi gi-mana mau jadi pahlawan coba?. Lihat anjing saja jadi takut”.
“Firdaus, ini aku kasih tahu sama kamu ya. Pahlawan itu tidak hanya orang yang memiliki tenaga seperti super-hero,
superman, atau semacamnya. Tapi pahlawan itu bisa juga disebut,
bila orang itu mampu membawa pe-rubahan yang menjadi lebih baik pada suatu
tempat yang ia kehendaki. Kan sudah dijelaskan oleh pak Arief tadi, jika seorang pahlawan itu juga sama halnya dengan Agent
of change”
“Oh, iya ya. Kenapa aku jadi lupa gitu ya Ky?”.
“Hahaha, asyik mikir yang tidak-tidak kali tuh Daus”.
“Hahaha, iya juga kali Ky”.
***
Akhirnya mereka mendapatkan ilmu yang sangat bermakna.
Risky, Lainun, Ilham, Firdaus, serta
kawan yang lainpun terasa bahagia. Karena betapa besar ilmu yang mereka dapatkan hari ini.
PESAN PENULIS :
Janganlah pernah melupakan jasa para pahlawan yang telah berjuang hidup dan matinya demi kita. Pahlawan itu sudah berjuang demi bangsanya, agar hidup di
dalam perdamaian. Jadi, janganlah sia-siakan waktu yang telah diperjuangkan oleh mereka
hanya untuk berbuat hal yang sia-sia.
Ingat dan bersyukurlah, bahwa kita lebih
beruntung dari Palestina. Pada umumnya warga di Palestina sangat sedikit memiliki
waktu untuk menuntut ilmu. Tapi mereka tidak pernah menyia-nyiakan waktu meski
se-detik pun.
