Kamis, 06 Juni 2013

(OPINI) Akal dan Nafsu



Ditulis oleh : Muhammad Iqbal, Mahasiswa angkatan 2011, Jurusan Tafsir-Hadits, Fakultas Ushuluddin.
Editor        : Muliadi Abd.

Akal adalah suatu pemberian Tuhan kepada Hamba-Nya yang digunakan untuk berfikir segala hal. Ia juga digunakan untuk memilih serta memilah suatu hal. Akal dapat dikatakan sebagai kepala suku atau kepala kelompok terhadap anggota badan. Disebabkan tergeraknya anggota badan itu adalah karena perintah dari akal tersebut sebagai motorisasi.

Perlu diketahui jika akal anda itu berefek negatif, maka hasilnya akan menimbulkan hal yang negatif pula. Begitupun sebaliknya jika akal anda berefek positif, maka akan menghasilkan sesuatu yang positif. Oleh kerena itu, pandai-pandailah dalam menggunakan akal.

Nafsu juga pemberian Tuhan kepada seluruh makhluknya. Nafsu juga kerap kaitannya dengan emosional. Istilah nafsu lebih dekat kepada hal yang negatif. Lalu bagaimana jika akal vs nasfu?. Jika kita melihat realita sekarang, maka jawabannya nafsu lebih berkuasa daripada akal. Buktinya ialah dengan kita melihat banyak tindakan kriminal yang terjadi sehari-hari. Seperti perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, pencuriaan, dan juga kemalasan yang tak lepas penyebabnya dari nafsu itu sendiri. Maka dalam ini, kita harus mengakui bahwa nafsu itu lebih berkuasa di dalam di jiwa manusia daripada kegunaan akal itu sendiri.

Lalu sekarang bagaimana cara kita untuk bisa mengendalikan nafsu negatif?. Dan cara apakah yang dapat digunakan, untuk lebih mengedepankan akal sehat kita?.

Salah satu caranya ialah dengan melihat anjuran di dalam ajaran agama Islam. Di karenakan dalam ajaran Islam, Allah swt menganjurkan hamba-Nya untuk lebih meningkatkan  kegiatan spritual kita seperti shalat, zakat, dsb. Dengan demikian, ‘Insya Allah kita akan mampu untuk lebih menggunakan akal sehat daripada nafsu kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar