Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, IAIN Ar-Raniry.
“Prakk....prakk....dum” Suara ranting pohon
yang patah dan terjatuh di halaman kampus tercinta. Ady yang biasanya datang
lebih awal dari teman-temannya, menyaksikan ranting pohon yang terjatuh itu.
lalu Ia mengambil ranting pohon tersebut untuk dibuangnya ketempat penumpukan
sampah. Tiba-tiba datanglah seorang pemuda yang ditaksir bernama Iqbal.
“Rajinnya, pagi-pagi sudah seperti orang
gotong royong”. kata Iqbal. “Bukan rajin Sob, tapi memang harus. Kalau bukan
kita, siapa lagi?”, balas Ady. “Tapi, ngemeng-ngemeng itu sampah dari mana?
Bukankah kampus kita ini selalu dibersihkan di waktu sore?”. “Ini sampah dari
pohon itu”, tunjuk Ady kepada asal mula ranting pohon itu terjatuh. “Tadi saat
aku sampai, aku melihat ranting pohon itu berseseran di halaman fakultas kita.
karena merusak pandangan dan juga keindahan, aku berniat untuk membuangnya
ketempat sampah”. “Tapi buat apa sih kamu yang bersihkan?, bukankan di fakultas
kita ini ada petugas kebersihan”. “Aduh, kamu ini bagaimana sih?. meskipun
sudah ada petugas, bukan berarti kita sebagai penghuni fakultas diam saja
melihat kondisi halamanya kotor. kita kan juga harus ikut andil dalam
menjadikan fakultas yang kita cintai ini, menjadi indah dan bebas dari kotoran.
kalau kampus kita bersih, siapa juga yang akan merasa nyaman ketika proses
belajar mengajar berlangsung?, kita juga kan”.
“Lagi pula Allah swt itu mencintai yang
indah-indah. Ingat loh, kita ini mahasiswa Jurusan Tafsir dan Hadits, Fakultas Ushuluddin.
Jadi kita wajib untuk bisa menjadi contoh teladan bagi mahasiswa jurusan lain.
Alangkah ruginya kita ini mempelajari dan mendalami isi AlQuran dan AlHadits,
bila tiada pernah kita amalkan. Lagi pula kebersihan itu juga melandaskan kesucian
hati seseorang. Apalagi kita sudah diajarkan oleh dosen bahwa: “Allah itu
indah, dan Sesungguhnya Allah itu mencintai yang Indah-indah”. Nah,
kalau kita tidak buang sampah yang berserakan itu, berarti kita kotor dong.
Allah swt tidak akan pernah mencintai kita, karena hati dan jiwa kita terlihat
kotor. Apakah kamu mau seperti itu?”. sambung Ady. “Iya juga ya”, balas Iqbal.
Lalu mereka memasuki ruangan belajar
mereka. Di dalam ruangan, mereka belajar pembahasan tentang Adab dalam menjaga
lingkungan. Ketika itu, dosen yang bernama Faisal menjelaskan kepada Ady dan
teman-temannya untuk selalu menjaga lingkungan. Karena menurutnya, menjaga
lingkungan merupakan salah satu adab atau akhlak manusia terhadap lingkungan.
Dosen menjelaskan bahwa Adab di dalam mejaga lingkungan banyak caranya. Salah satunya
ialah selalu membersihkan kotoran-kotoran yang ada. karena dengan kita
membersihkan kotoran yang ada, maka kita telah menjaga dan menjadikan
lingkungan disekitar kita menjadi bersih. Dengan demikian, kita sudah mampu
menciptakan suatu keindahan yang kita harapkan.
“Pak, jika ada orang yang malas untuk
melestarikan kebersihan, apa konsekuensinya bila ditinjau dalam ajaran Islam?”.
Tanya Ady pada dosennya.
“Bagus pertanyaannya. Manakala ada orang yang
malas dalam melestarikan kebersihan. maka orang tersebut telah menjadi orang
yang tidak menjalankan kewajiban dirinya sebagai seorang muslim. Kewajiban
seorang muslim itu bukan saja dalam hal Shalat, Puasa, Zakat dan sebagainnya. Akan
tetapi kewajiban seorang muslim, juga harus menjaga dan merawat lingkungan
tempat tinggalnya. contohnya: Bukankah manusia itu tinggal dan beristirahat di
dalam rumah? tentu jawabannya iya. kalau rumah yang menjadi tempat kita
beristirahat itu kotor karena tidak dibersihkan, maka kuman-kuman atau sumber
penyakit akan berdatangan dan tinggal di dalamnya. Orang itu pastinya akan
terkena penyakit yang disebabkan oleh kuman dan bakteri tersebut. Otomatis secara
tidak sadar Orang itu telah lalai dalam menjaga kesehatannya. Tentunya hal itu
semua dapat menjadi sebuah faktor penghambat baginya untuk beribadah kepada
Allah swt”. Jawab Faisal.
“Nah, kalau begitu terbukti bahwa di dalam ajaran
Islam. Melestarikan kebersihan itu sangatlah dianjurkan. sebab dalam Islam: “Kebersihan
Itu Ialah Sebahagian Dari Pada Iman” sambung Faisal.
Detik demi detik telah mereka lewati. Waktu yang
berputar menandakan jam kuliah pada hari itu telah selesai. Ady dan
teman-temannya berlalu meninggalkan ruangannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar