Karya : Muliadi Abd
Di pagi yang cerah, kebahagiaan datang menghampiri. Tertulis sebuah kisah
cinta indah nan terharu. Ditemani sang mentari pagi, pemuda bernama Risky Mulya
memulai statusnya sebagai mahasiswa.
Risky mengambil Jurusan Tafsir dan Hadits pada Fakultas Ushuluddin. Fakultas
tersebut terdapat disebuah kampus islam. Kampus tersebut telah menjadi jantung
hati penduduk suatu negeri. yaitu negeri yang kaya akan ilmu agama islam.
Kampus yang dinamai dengan keindahan dan keilmuan agama islam tersebut, merupakan
sebuah nama dari hasil gabungan seorang tokoh ulama yang terkenal di negeri
itu. Syeikh Nurrudin Ar-Raniry adalah seorang penasehat raja yang bernama
Sultan Iskandar Tsani. Sehingga nama penasehat tersebut, diabadikan menjadi
suatu nama kampus bernama IAIN Ar-Raniry.
Risky terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. penampilannya biasa saja.
Kondisi ekonomi keluarganya serba pas-pasan. sehingga penghasilan yang
didapatkan oleh keluarganya, hanya cukup memenuhi kebutuhan diri dan
keluarganya saja.
Cita-cita Risky adalah satu tujuan dari suatu pendidikan yang hendak
dijalani oleh dirinya. Ilmu agama yang
sangat dasar menjadi modal awal, untuk bisa meniti karir menuju masa depan yang
terjamin. Sehingga ia mampu untuk merubah kondisi kehidupan keluarganya menjadi
lebih baik.
Hari pertama berstatus mahasiswa, Risky menjalani sesi perkenalan kampus. Ia
berjumpa dengan seorang pemuda yang
datang dari kejauhan untuk menuntut ilmu di kampus yang sama dengannya. Sebut
saja pemuda yang dijumpai itu bernama Iqbal.
***
“Hai” Sapa Risky kepada Iqbal.
“Hai juga” balas Iqbal sambil tersenyum.
“Maaf, jika boleh aku tau siapa namamu ?”
“Oh, boleh kok. Namaku Muhammad Iqbal, panggil
saja Iqbal. Nama kamu siapa......???”
“Aku Risky Mulya, panggil saja Risky”
***
Hari berganti hari berlalu menghiasi pertemuan mereka. Kemudian tibalah saatnya
Risky, Iqbal, dan juga teman yang lainnya, memasuki gerbang perkenalan dengan
kakak kelas mereka. Risky dan teman-temannya berkenalan satu sama lain dengan
kakak kelas mereka. Disebuah aula yang sederhana menjadi saksi perkenalan itu.
***
“Assalamu’alaikum,,, selamat pagi semuanya” Sambutan kakak kelas yang bernama Suryadi.
“Assalamu’alaikum,,, selamat pagi semuanya” Sambutan kakak kelas yang bernama Suryadi.
“Wa’alaikumsalam,,, pagi juga Kak” jawab
mereka serentak.
“Bagaimana kabarnya, sehatkan ?”
“Alhamdulillah sehat kak...” jawab mereka juga
serentak.
“Siapa namamu ?”. Suryadi menunjuk ke arah
Risky.
“Namaku Risky Mulya, panggil saja Risky”
“Mmmm” kata Suryadi sambil menganggukkan
kepala.
“Dari mana asalmu Risky...???” tanya Suryadi
kembali kepada Risky.
“ Saya dari Banda Aceh kak”
“mengapa kamu masuk kuliah di jurusan Tafsir dan
Hadits ini...?”
“saya senang dan cinta dengan Al-Qur’an serta
Hadits, bagi saya keduanya bagaikan mahkota yang selalu indah dilihat dari
berbagai sisi, jadi alangkah indahnya dan juga bermanfaat bila cinta saya terhadap
kedua mahkota tersebut dapat lebih dieratkan dengan cara mempelajari serta memahami
lebih dalam isi dari kandungan Al-Qur’an dan Hadits itu sendiri. Oleh karena
itu, ‘InsyaAllah saya sangat yakin, jurusan ini dapat mengantarkan saya kepada
tujuan yang ingin saya tuju” jawab Risky dengan lancar.
“Bagus...semoga apa yang kamu impikan dapat
terwujud.” Sambil tersenyum kagum kepada Risky.
‘‘InsyaAllah Kakak yakin Di sini kamu pasti
akan mendapatkan apa yang kamu harapkan, karena kakak dulu juga merasakan hal
yang sama sepertimu, dan Alhamdulillah kini kakak telah mendapatkan buah atau
hasil dari apa yang kakak ingin petik dulu seperti keinginan kamu sekarang,
asalkan kamu tekun dan rajin berdo’a, ‘InsyaAllah kamu pasti akan bisa juga
seperti kakak.”
“Amiiiiin.....’InsyaAllah, terima kasih kak
atas motivasinya” ucap Risky sambil tersenyum bahagia.
***
Detik demi detik pun berlalu, komunikasi Suryadi
dengan Risky dan juga mahasisiwa lainnya secara satu persatupun selesai.
Risky beserta teman-temannya keluar dari aula
untuk beristirahat sejenak di kantin.
Setelah Risky dan teman-temannya menghabiskan waktu beristirahat bersama,
merekapun kembali ke dalam ruangan untuk bersiap-siap menyambut orang nomor
satu di Fakultas Ushuluddin yang menjadi tempat pelabuhan pendidikan Risky dan
teman-temannya,
Beliau adalah
Dekan atau Direktur Fakultas Ushuluddin yang Bapak Dr. H. Syamsul Rijal Sys, M.Ag.
***
Bapak Dekan memberikan salam selamat datang
kepada Ady dan teman-temannya, serta diiringi dengan butiran-butiran nasehat
yang bisa menjadi acuan semangat yang besar bagi mereka, kata “JAYA” juga beliau agungkan kepada mereka sebagai
motivasi yang dapat membangkitkan jiwa keushuluddinan yang maju, sehingga di
waktu itu mereka semua telah merasa seperti berada di dalam keluarga yang utuh
dengan adanya sosok Dekan yang bisa memberikan kedekatan yang baik kepada Risky
dan teman-temannya, sehingga Risky beserta teman-temannya pun telah siap
menjadikan Bapak Dekan tersebut sebagai ayahanda bagi mereka di Fakultas
Ushuluddin yang mereka cintai. Di dalam ruangan yang diterangi oleh cahaya
lampu menjadi saksi pertemuan mereka.
Kemudian setelah Risky beserta teman-temannya berjumpa dengan Bapak Dekan,
mereka bersama juga menjumpai sosok seseorang yang juga tak kalah peran
pentingnya dalam perkembangan ilmu di jurusan tafsir dan hadits, di mana tempat
tersebut adalah jurusan yang di jadikan oleh Risky dan teman-temannya sebagai
tempat pendaratan untuk mencari ilmu pengetahuan bagi mereka semua. Beliau
bernama Dr. Abdul Wahid, M.Ag. beliau memberikan kata sambutan sekaligus
memperkenalkan sisi jurusan kepada Risky dan teman-temannya.
Setelah pertemuan serta pengenalan dengan satu persatu pembesar-pembesar
kampus yang mereka temui. merekapun pulang kerumah masing-masing guna
beristirahat untuk bersiap-siap menjalani perkuliahan pada esok harinya.
Sejak saat itu bagi seorang Risky, Ia telah
menjadikan Fakultas Ushuluddin serta Jurusan yang terbangun bagai istana dua
cinta Tafsir dan Hadits menjadi rumah kedua baginya,
*****
PESAN PENULIS :
Jadikan tempat menuntut ilmu itu sebagai rumah
kedua setelah rumah kita sendiri, karena dengan kita menjadikannya sebagai
rumah kita, maka kita akan merasakan suatu hal yang luar biasa seolah-olah kita
merasakan seperti berada di dalam rumah kita sendiri, dan janganlah menanyakan
apa yang telah di berikan kampusmu itu
kepadamu, akan tetapi tanyakan pada dirimu sendiri apa yang telah kamu berikan
kepada kampusmu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar