Senin, 03 Juni 2013

(CERPEN) Rumah Kedua


Karya : Muliadi Abd

Di pagi yang cerah, kebahagiaan datang menghampiri. Tertulis sebuah kisah cinta indah nan terharu. Ditemani sang mentari pagi, pemuda bernama Risky Mulya memulai statusnya sebagai mahasiswa.
Risky mengambil Jurusan Tafsir dan Hadits pada Fakultas Ushuluddin. Fakultas tersebut terdapat disebuah kampus islam. Kampus tersebut telah menjadi jantung hati penduduk suatu negeri. yaitu negeri yang kaya akan ilmu agama islam.
Kampus yang dinamai dengan keindahan dan keilmuan agama islam tersebut, merupakan sebuah nama dari hasil gabungan seorang tokoh ulama yang terkenal di negeri itu. Syeikh Nurrudin Ar-Raniry adalah seorang penasehat raja yang bernama Sultan Iskandar Tsani. Sehingga nama penasehat tersebut, diabadikan menjadi suatu nama kampus bernama IAIN Ar-Raniry.
Risky terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. penampilannya biasa saja. Kondisi ekonomi keluarganya serba pas-pasan. sehingga penghasilan yang didapatkan oleh keluarganya, hanya cukup memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya saja.
Cita-cita Risky adalah satu tujuan dari suatu pendidikan yang hendak dijalani oleh dirinya. Ilmu  agama yang sangat dasar menjadi modal awal, untuk bisa meniti karir menuju masa depan yang terjamin. Sehingga ia mampu untuk merubah kondisi kehidupan keluarganya menjadi lebih baik.
Hari pertama berstatus mahasiswa, Risky menjalani sesi perkenalan kampus. Ia berjumpa  dengan seorang pemuda yang datang dari kejauhan untuk menuntut ilmu di kampus yang sama dengannya. Sebut saja pemuda yang dijumpai itu bernama Iqbal.
***
“Hai” Sapa Risky kepada Iqbal.
“Hai juga” balas Iqbal sambil tersenyum.
“Maaf, jika boleh aku tau siapa namamu ?”  
“Oh, boleh kok. Namaku Muhammad Iqbal, panggil saja Iqbal. Nama kamu siapa......???”
“Aku Risky Mulya, panggil saja Risky”
***
Hari berganti hari berlalu menghiasi pertemuan mereka. Kemudian tibalah saatnya Risky, Iqbal, dan juga teman yang lainnya, memasuki gerbang perkenalan dengan kakak kelas mereka. Risky dan teman-temannya berkenalan satu sama lain dengan kakak kelas mereka. Disebuah aula yang sederhana menjadi saksi perkenalan itu.
*** 
“Assalamu’alaikum,,, selamat pagi semuanya” Sambutan kakak kelas yang bernama Suryadi.
“Wa’alaikumsalam,,, pagi juga Kak” jawab mereka serentak.
“Bagaimana kabarnya, sehatkan ?”
“Alhamdulillah sehat kak...” jawab mereka juga serentak.
“Siapa namamu ?”. Suryadi menunjuk ke arah Risky.
“Namaku Risky Mulya, panggil saja Risky”
“Mmmm” kata Suryadi sambil menganggukkan kepala.
“Dari mana asalmu Risky...???” tanya Suryadi kembali kepada Risky.
“ Saya dari Banda Aceh kak”
“mengapa kamu masuk kuliah di jurusan Tafsir dan Hadits ini...?”
“saya senang dan cinta dengan Al-Qur’an serta Hadits, bagi saya keduanya bagaikan mahkota yang selalu indah dilihat dari berbagai sisi, jadi alangkah indahnya dan juga bermanfaat bila cinta saya terhadap kedua mahkota tersebut dapat lebih dieratkan dengan cara mempelajari serta memahami lebih dalam isi dari kandungan Al-Qur’an dan Hadits itu sendiri. Oleh karena itu, ‘InsyaAllah saya sangat yakin, jurusan ini dapat mengantarkan saya kepada tujuan yang ingin saya tuju” jawab Risky dengan lancar.
“Bagus...semoga apa yang kamu impikan dapat terwujud.” Sambil tersenyum kagum kepada Risky.
‘‘InsyaAllah Kakak yakin Di sini kamu pasti akan mendapatkan apa yang kamu harapkan, karena kakak dulu juga merasakan hal yang sama sepertimu, dan Alhamdulillah kini kakak telah mendapatkan buah atau hasil dari apa yang kakak ingin petik dulu seperti keinginan kamu sekarang, asalkan kamu tekun dan rajin berdo’a, ‘InsyaAllah kamu pasti akan bisa juga seperti kakak.”
“Amiiiiin.....’InsyaAllah, terima kasih kak atas motivasinya” ucap Risky sambil tersenyum bahagia.
***
Detik demi detik pun berlalu, komunikasi Suryadi dengan Risky dan juga mahasisiwa lainnya secara satu persatupun  selesai.

Risky beserta teman-temannya keluar dari aula untuk beristirahat sejenak di kantin.

Setelah Risky dan teman-temannya menghabiskan waktu beristirahat bersama, merekapun kembali ke dalam ruangan untuk bersiap-siap menyambut orang nomor satu di Fakultas Ushuluddin yang menjadi tempat pelabuhan pendidikan Risky dan teman-temannya,
 Beliau adalah Dekan atau Direktur Fakultas Ushuluddin yang  Bapak Dr. H. Syamsul Rijal Sys, M.Ag.
***
Bapak Dekan memberikan salam selamat datang kepada Ady dan teman-temannya, serta diiringi dengan butiran-butiran nasehat yang bisa menjadi acuan semangat yang besar bagi mereka, kata “JAYA”  juga beliau agungkan kepada mereka sebagai motivasi yang dapat membangkitkan jiwa keushuluddinan yang maju, sehingga di waktu itu mereka semua telah merasa seperti berada di dalam keluarga yang utuh dengan adanya sosok Dekan yang bisa memberikan kedekatan yang baik kepada Risky dan teman-temannya, sehingga Risky beserta teman-temannya pun telah siap menjadikan Bapak Dekan tersebut sebagai ayahanda bagi mereka di Fakultas Ushuluddin yang mereka cintai. Di dalam ruangan yang diterangi oleh cahaya lampu menjadi saksi pertemuan mereka.
Kemudian setelah Risky beserta teman-temannya berjumpa dengan Bapak Dekan, mereka bersama juga menjumpai sosok seseorang yang juga tak kalah peran pentingnya dalam perkembangan ilmu di jurusan tafsir dan hadits, di mana tempat tersebut adalah jurusan yang di jadikan oleh Risky dan teman-temannya sebagai tempat pendaratan untuk mencari ilmu pengetahuan bagi mereka semua. Beliau bernama Dr. Abdul Wahid, M.Ag. beliau memberikan kata sambutan sekaligus memperkenalkan sisi jurusan kepada Risky dan teman-temannya.
Setelah pertemuan serta pengenalan dengan satu persatu pembesar-pembesar kampus yang mereka temui. merekapun pulang kerumah masing-masing guna beristirahat untuk bersiap-siap menjalani perkuliahan pada esok harinya.
Sejak saat itu bagi seorang Risky, Ia telah menjadikan Fakultas Ushuluddin serta Jurusan yang terbangun bagai istana dua cinta Tafsir dan Hadits menjadi rumah kedua baginya,
*****


PESAN PENULIS :
Jadikan tempat menuntut ilmu itu sebagai rumah kedua setelah rumah kita sendiri, karena dengan kita menjadikannya sebagai rumah kita, maka kita akan merasakan suatu hal yang luar biasa seolah-olah kita merasakan seperti berada di dalam rumah kita sendiri, dan janganlah menanyakan apa yang telah di berikan kampusmu  itu kepadamu, akan tetapi tanyakan pada dirimu sendiri apa yang telah kamu berikan kepada kampusmu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar